Ntvnews.id, Jakarta - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, mengingatkan para pengawas gizi, pengawas keuangan, serta Asisten Lapangan (Aslap) untuk melakukan pemeriksaan bersama saat bahan baku tiba. Pemeriksaan ini dilakukan guna memastikan seluruh bahan makanan yang akan dimasak di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berada dalam kondisi layak dan aman. Ketelitian ekstra perlu dilakukan sejak awal untuk mencegah terjadinya insiden keamanan pangan.
“Jika sejak awal sudah terlihat tanda-tanda bahan tidak layak, seperti ayam yang tidak sehat, sayuran yang tidak segar, atau tahu yang kualitasnya buruk, segera kembalikan kepada mitra,” ujar Nanik saat memberikan pengarahan dalam kegiatan Koordinasi dan Evaluasi bagi Ahli Gizi, Akuntan, dan Chef se-Kabupaten Pacitan, Ponorogo, dan Trenggalek di Pacitan, akhir pekan lalu, Februari 2026.
Nanik juga menegaskan agar para Pengawas Gizi dan Pengawas Keuangan menolak segala bentuk intervensi dari mitra SPPG terhadap operasional dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), terutama jika intervensi tersebut menyangkut perubahan menu yang telah disusun oleh Pengawas Gizi. Ia menilai, intervensi kerap dilakukan dengan dalih bahwa para Ahli Gizi masih junior, kurang berpengalaman, dan tidak memahami harga pangan.
“Laporkan kepada saya. Jika ada intervensi, dapurnya akan langsung saya tutup. Penyusunan menu tidak ada urusannya dengan mitra, apalagi sampai mengubah menu yang sudah disusun oleh Ahli Gizi. Jika ada yang berani mengubah, akan saya suspend,” tegas Ketua Harian Tim Koordinasi 17 Kementerian dan Lembaga untuk Pelaksanaan Program MBG tersebut.
Petugas menyiapkan paket makanan bergizi gratis (MBG) di dapur Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal), Cipulir, Jakarta, Selasa (14/1/2025). Dapur MBG Seskoal mendistribusikan sebanyak 3.000 sampai 4.000 makanan bergizi ke delapan sekolah d (Antara)
Menurut Nanik, anggapan bahwa pengelola dapur MBG masih junior dan tidak memahami harga pangan hanyalah dalih. Ia menilai, intervensi tersebut berpotensi mendorong penggunaan bahan baku berkualitas rendah demi keuntungan yang lebih besar. “Ini yang menjadi awal terjadinya keracunan, karena pemilihan bahan baku yang tidak sesuai,” ujarnya.
Para Pengawas Gizi dan Chef juga diminta memahami cara penanganan bahan makanan serta petunjuk teknis penggunaan peralatan dapur. Hal ini penting untuk mencegah insiden keamanan pangan akibat kesalahan penanganan bahan atau penggunaan alat yang tidak sesuai standar. Saat bahan tiba dan kualitasnya telah diperiksa, misalnya ayam, Ahli Gizi harus dapat menentukan apakah bahan tersebut perlu segera direbus atau disimpan di dalam chiller dengan suhu di bawah 5 derajat Celsius.
Nanik mencontohkan insiden di Magelang, di mana ayam disimpan dalam chiller dengan suhu 19 derajat Celsius. Kondisi tersebut menyebabkan berkembangnya bakteri salmonella dan berujung pada kasus keracunan yang dialami sekitar 200 orang.
Situasi serupa juga terjadi di salah satu SPPG di Boyolali yang pekan lalu mengalami insiden keamanan pangan. Dalam kasus tersebut, mitra SPPG diketahui hanya menyediakan chiller dan kulkas bekas dalam kondisi tidak layak. Oleh karena itu, Nanik meminta para Chef, yang lebih memahami kondisi peralatan, untuk segera melaporkan kepada Kepala SPPG agar meminta penggantian alat kepada mitra. Mitra bertanggung jawab menyediakan peralatan dapur yang baru dan berkualitas sesuai petunjuk teknis. Mitra yang tidak memenuhi kewajiban tersebut akan dikenai sanksi penangguhan kerja hingga kewajiban dipenuhi.
“Jika peralatan rusak atau tidak layak pakai, jangan dipaksakan. Sampaikan kepada Kepala SPPG untuk meminta penggantian. Kita menyewa, jadi jika alat rusak, mitra wajib mengganti dengan peralatan yang sesuai standar dan juknis yang ada. Jangan sampai seperti di Boyolali, semua peralatan dalam kondisi bekas dan bermasalah,” tegas Nanik.
Baca Juga: Mitra SPPG Tak Boleh Lepas Tangan, Tapi Tetap Dilarang Intervensi Dapur MBG
Baca Juga: BGN: MBG Jadi Proyek Strategis Nasional Nomor Satu, Serap 1 Juta Tenaga Kerja
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S. Deyang. (Foto: ANTARA FOTO/Galih Pradipta/aa)