Protes Anti-Pemerintah di Albania Berujung Bentrokan, Molotov Buat Gedung Pemerintah Membara

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 12 Feb 2026, 12:40
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Protes Anti-Pemerintah di Albania Berujung Bentrokan, Molotov Buat Gedung Pemerintah Membara Protes Anti-Pemerintah di Albania Berujung Bentrokan, Molotov Buat Gedung Pemerintah Membara (Istimewa)

Ntvnews.id, Tirane - Aksi unjuk rasa anti-pemerintah di pusat kota Tirana, Albania, diwarnai kericuhan pada Selasa malam, 10 Februari 2026.

Dilansir dari Anadolu, Kamis, 12 Februari 2026, aparat kepolisian anti huru-hara menembakkan gas air mata serta meriam air untuk membubarkan massa yang melemparkan bom molotov dan suar ke arah petugas.

Pihak kepolisian menyatakan sebanyak 16 orang harus menjalani perawatan di rumah sakit akibat luka bakar dan cedera lainnya. Selain itu, 13 orang demonstran diamankan dalam peristiwa tersebut.

Pemerintahan Perdana Menteri Edi Rama saat ini berada di bawah tekanan politik setelah Wakil Perdana Menteri Belinda Balluku terseret dugaan kasus korupsi. Namun, Rama menolak permintaan untuk mencopot Balluku dari jabatannya.

Baca Juga: PM Albanese: Tidak Ada Negara yang Lebih Penting bagi Australia Selain Indonesia

Balluku, yang juga menjabat sebagai Menteri Energi dan Infrastruktur, dituduh oleh jaksa antikorupsi telah mencampuri proses pengadaan proyek konstruksi demi menguntungkan perusahaan tertentu. Jaksa pun mendorong parlemen untuk mencabut kekebalan hukum Balluku melalui mekanisme pemungutan suara.

Aksi yang diikuti ribuan orang itu menjadi demonstrasi ketiga dalam beberapa bulan terakhir yang menuntut Rama mundur dari jabatannya. Lebih dari 1.300 personel kepolisian dikerahkan guna mengamankan jalannya aksi.

Protes Anti-Pemerintah di Albania Berujung Bentrokan, Molotov Buat Gedung Pemerintah Membara <b>(Istimewa)</b> Protes Anti-Pemerintah di Albania Berujung Bentrokan, Molotov Buat Gedung Pemerintah Membara (Istimewa)

Kerusuhan juga terjadi dalam sejumlah demonstrasi sebelumnya. Massa melemparkan bom molotov dan batu ke arah aparat serta gedung-gedung pemerintah, sementara polisi membalas dengan gas air mata dan meriam air.

Pemimpin oposisi dari Partai Demokrat, Sali Berisha mantan perdana menteri yang juga pernah menghadapi tuduhan korupsi menyebut aksi tersebut sebagai “pemberontakan damai” pada momen krusial bagi Albania. Ia menuduh Rama telah “menyatakan perang terhadap sistem peradilan.”

Analis politik Mentor Kikia menilai kecil kemungkinan demonstrasi ini akan membawa perubahan besar. Ia menyebut sebagian pemilih cenderung memilih “kejahatan yang lebih kecil untuk menyingkirkan kejahatan yang lebih besar” dalam setiap pemilu.

Baca Juga: Prabowo–Albanese Tegaskan Kemitraan Strategis Lewat Traktat Keamanan Indonesia–Australia

“Persepsi saat ini adalah jika Rama pergi, Berisha akan kembali. Yang satu meninggalkan kekuasaan karena korupsi, yang lain juga harus meninggalkan kekuasaan karena korupsi,” ujar Kikia.

Di tengah ketegangan politik tersebut, Albania masih berupaya merampungkan proses aksesi ke Uni Eropa yang ditargetkan selesai pada 2027. Namun, lembaga pemantau internasional menilai negara itu masih menghadapi masalah korupsi yang cukup luas.

x|close