Ntvnews.id, Jakarta - Pada 11 Februari 2026, sebuah pesawat Arik Air jenis Boeing 737-700 yang mengoperasikan penerbangan W3 740 rute Lagos menuju Port Harcourt terpaksa mematikan mesin kirinya setelah kru mendengar suara dentuman keras dan melihat indikasi tidak normal di kokpit ketika pesawat menanjak pada ketinggian 27.000 kaki.
Mengikuti prosedur keselamatan, kru kemudian memutuskan mengalihkan penerbangan menuju Benin Airport. Pesawat berhasil mendarat dengan aman, dan seluruh 80 penumpang turun tanpa mengalami luka.
Biro Investigasi Keselamatan Nigeria, Nigeria’s Safety Investigation Bureau, telah membuka penyelidikan untuk mengetahui penyebab insiden tersebut.
Baca Juga: Airlangga Genjot Industri Elektronik dan Semikonduktor Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Pesawat yang mengalami insiden adalah Boeing 737-700 bernomor registrasi 5N-MJF. Pesawat ini merupakan bagian dari keluarga 737 Next Generation (NG) yang umum digunakan untuk penerbangan jarak pendek dan rute domestik di berbagai negara. Unit tersebut dikirim langsung ke Arik Air pada Desember 2007 tanpa pernah dioperasikan maskapai lain.
Sebagai varian yang lebih kecil dibanding 737-800, Boeing 737-700 biasanya berkapasitas sekitar 140 penumpang, tergantung konfigurasi maskapai. Ukurannya yang lebih ringkas membuatnya cocok untuk rute dengan permintaan penumpang yang fluktuatif dan memungkinkan maskapai tetap menjalankan frekuensi penerbangan tinggi tanpa risiko kursi kosong yang besar.
Dibandingkan 737-800, varian -700 yang lebih ringan juga memiliki performa lebih baik di landasan pendek serta kondisi cuaca panas, faktor yang sangat relevan untuk operasi penerbangan regional di Afrika Barat.
Laporan awal menyebutkan adanya kerusakan yang terlihat pada penutup mesin kiri pesawat. Meski penyebab pasti baru dapat dipastikan lewat investigasi resmi, kerusakan seperti ini umumnya berkaitan dengan malfungsi internal, bukan benturan dari luar.
Baca Juga: Polisi Selidiki Video Pasangan Diduga Mesum di Mobil Taksi Online
Mesin turbofan modern, seperti CFM56 yang digunakan pada B737, terdiri dari berbagai komponen berputar berkecepatan tinggi, termasuk bilah kipas, kompresor, dan turbin yang bekerja pada temperatur ekstrem. Jika salah satu komponennya rusak atau gagal, getaran dan perubahan suhu akan langsung terdeteksi oleh instrumen dan sistem peringatan di kokpit.
Dalam situasi seperti ini, melanjutkan penerbangan menuju tujuan jarang menjadi pilihan. Kru biasanya segera mengalihkan penerbangan ke bandara terdekat yang paling aman agar layanan darurat bisa bersiaga.
Pesawat bermesin ganda seperti Boeing B737 memang disertifikasi untuk tetap dapat terbang dan mendarat dengan satu mesin yang tidak berfungsi.
Saat kejadian seperti ini terjadi, kru kokpit akan mengikuti daftar prosedur darurat yang ketat, termasuk mematikan mesin yang bermasalah dan melakukan pendaratan darurat secara aman, persis seperti yang dilakukan pada penerbangan W3 740.
Mesin Pesawat Arik Air jenis Boeing 737-700 Rusak (Airline Ratings)