Batch Ketiga PPDS Berbasis RS Diikuti Puluhan Dokter, Menkes: Percepat Pemerataan Spesialis

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 25 Feb 2026, 13:32
thumbnail-author
Naurah Faticha
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Rabu, 25 Februari 2026. ANTARA/Mecca Yumna Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Rabu, 25 Februari 2026. ANTARA/Mecca Yumna (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin

 menyatakan bahwa pelaksanaan batch ketiga Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) berbasis rumah sakit di Rumah Sakit Pendidikan sebagai Penyelenggara Utama (RSPPU) diikuti 58 dokter dari berbagai daerah dan diharapkan mampu mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter spesialis secara nasional.

Dalam keterangannya di Jakarta pada Rabu, 25 Februari 2026, Budi menjelaskan bahwa pemerintah mulai tahun ini secara agresif melengkapi fasilitas medis modern di 514 kabupaten dan kota. Targetnya, seluruh fasilitas tersebut telah terpasang pada tahun 2027 agar layanan kesehatan kepada masyarakat semakin optimal.

"Kekurangannya cuma satu, adalah jumlah dokter dan terutama distribusinya. Jadi mengapa hospital-based ini didirikan, teman-teman juga bantu menjelaskan. Ini adalah cara yang paling efektif untuk mendistribusikan dokter," ujarnya.

Ia menuturkan bahwa sistem pendidikan berbasis rumah sakit dirancang untuk menjawab kebutuhan riil daerah. Seleksi peserta tidak didasarkan pada latar belakang keluarga, agama, atau golongan, melainkan pada kebutuhan layanan spesifik di rumah sakit asal dokter tersebut.

Dengan demikian, rekrutmen dilakukan sesuai kebutuhan masing-masing wilayah.

Baca Juga: Insentif Rp30 Juta untuk Dokter Spesialis di Daerah Tertinggal Tak Lagi Lewat Dana Alokasi Khusus

Menurut Budi, biaya pendidikan dokter spesialis selama ini tergolong tinggi sehingga hanya kalangan tertentu yang mampu mengaksesnya.

Melalui program ini, pemerintah membuka kesempatan yang lebih adil bagi putra-putri daerah untuk menempuh pendidikan spesialis.

"Mungkin belum sebesar yang Anda inginkan tapi ini merupakan transformasi awal yang merubah paradigma bahwa dokter spesialis itu bukan seorang murid, bukan orang yang harus bayar uang kuliah. Dia adalah seorang profesional yang dilatih agar lebih mahir di bidangnya," katanya.

Selain itu, para peserta tetap menerima bayaran selama menjalani pendidikan agar dapat fokus belajar dan bekerja tanpa terbebani persoalan finansial.

Baca Juga: Menkes Ungkap Tunjangan Khusus Dokter Spesialis di Daerah 3T Ide Prabowo

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan Azhar Jaya mengungkapkan Indonesia masih kekurangan sekitar 92 ribu dokter umum, 129 ribu dokter gigi, dan 51 ribu dokter spesialis.

"Jumlah peserta daripada program hospital-based saat ini adalah berjumlah 58 orang, terdiri dari prodi anak 10 orang, prodi mata 10 orang, prodi neuro 12 orang, prodi jantung dan pembuluh darah 10 orang, prodi ortopedi dan traumatologi 10 orang, prodi onkologi radiasi 6 orang," kata Azhar.

Para peserta program ini nantinya akan ditempatkan di berbagai wilayah luar Pulau Jawa untuk memperkuat layanan kesehatan daerah.

"Di mana nanti akan ditempatkan di Sumata 18 orang, Pak. Di Bangka Belitung 3 orang, di Kalimantan 12 orang, Sulawesi 6 orang, Maluku 6 orang, Papua 6 orang, NTT 7 orang," katanya.

(Sumber: Antara) 

x|close