Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran berpotensi berjalan selama empat minggu.
"Prosesnya selalu memakan waktu empat minggu. Kami memperkirakan akan memakan waktu sekitar empat minggu," ujarnya kepada Daily Mail dalam wawancara terbaru.
"Sekuat apa pun Iran, ini adalah negara yang besar, akan membutuhkan waktu empat minggu atau kurang," lanjutnya.
Sebelumnya, serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, beserta sejumlah pejabat tinggi lainnya. Aksi militer tersebut memicu respons cepat dari Iran.
Pasukan Iran membalas dengan meluncurkan rudal dan drone yang menghantam pangkalan militer AS serta sejumlah target lain di kawasan Timur Tengah. Menanggapi situasi itu, Trump kembali mendesak Teheran agar menghentikan serangan.
Baca Juga: Iran Nyatakan tak Akan Lagi Berunding dengan AS
"Sekali lagi saya mendesak Garda Revolusi, militer dan polisi Iran untuk meletakkan senjata," katanya, seperti dikutip dari AFP, Selasa, 3 Maret 2026.
"Ini akan menjadi kematian yang pasti. Ini tidak akan menyenangkan," tambahnya.
Di sisi lain, militer AS mengklaim telah menghancurkan markas besar Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). "AS memiliki militer terkuat di dunia dan IRGC tidak lagi memiliki markas besar," demikian pernyataan dari United States Central Command.
Ilustrasi Serangan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah pemukiman penduduk Iran. (Anadolu)
Meski demikian, para pemimpin Iran yang masih bertahan menyatakan penolakan keras terhadap serangan tersebut dan menilai aksi balasan sebagai bentuk pembelaan diri yang sah. Di Israel, serangan rudal Iran dilaporkan menewaskan sedikitnya sembilan orang dan melukai puluhan lainnya di kota Beit Shemesh.
Sirene peringatan juga terdengar di wilayah utara Israel setelah terdeteksi proyektil dari kelompok Hezbollah yang melakukan serangan balasan atas kematian Khamenei. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyebut pembunuhan Khamenei sebagai deklarasi perang terhadap umat Muslim Iran.
Baca Juga: Presiden Iran Tunjuk Majid Ebnelreza Sebagai Menteri Pertahanan Sementara
"Iran menganggap sebagai kewajiban dan haknya yang sah untuk membalas dendam terhadap para pelaku dan dalang kejahatan bersejarah ini," tegasnya.
Sementara itu, Ali Larijani, kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang berpengaruh, memperingatkan bahwa Iran akan melancarkan serangan dengan kekuatan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Situasi ini menandai potensi eskalasi lebih lanjut di kawasan yang sudah berada dalam ketegangan tinggi.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. ANTARA/Anadolu/as/am. (Antara)