Ntvnews.id, Istanbul - Arus kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz turun drastis menyusul lonjakan risiko keamanan di kawasan tersebut. Lebih dari 700 kapal kini dilaporkan menunggu di kedua sisi jalur pelayaran strategis itu, membuat aktivitas pengiriman energi global nyaris terhenti.
Selat Hormuz yang terletak di pintu masuk Teluk Persia merupakan jalur vital distribusi minyak dan gas alam cair Timur Tengah menuju pasar dunia melalui Teluk Oman dan Samudra Hindia.
Sekitar 20 persen konsumsi minyak harian global, setara kurang lebih 20 juta barel per hari, melintasi koridor sempit ini.
Ketegangan meningkat setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan.
Baca Juga: Iran Tutup Selat Hormuz Usai Serangan Israel-AS
Sejumlah operator kapal menghentikan pelayaran akibat melonjaknya premi asuransi dan kekhawatiran terhadap keselamatan awak serta muatan.
Berdasarkan analisis perusahaan data Kpler, pada 27 Februari sebanyak 15 kapal tanker mengangkut 21 juta barel minyak. Angka itu sempat naik menjadi 21,6 juta barel oleh 18 kapal pada Sabtu 28 Februari 2026.
Namun pada 1 Maret, hanya tiga kapal tanker yang melintas dengan muatan 2,8 juta barel. Jika dibandingkan dengan rata-rata aliran harian tahun ini sebesar 19,8 juta barel, volume tersebut menunjukkan penurunan hingga 86 persen.
Hingga kini, tercatat 706 kapal tanker non-Iran menunggu di sekitar selat, terdiri atas 334 kapal pengangkut minyak mentah, 109 kapal produk minyak kotor, dan 263 kapal produk minyak bersih.
Kapal-kapal itu tersebar di Teluk Persia bagian barat, Teluk Oman di sisi timur, serta Laut Arab.
Meski aktivitas pemuatan di dalam teluk masih berlangsung, berkurangnya keberangkatan ke arah timur diperkirakan akan menunda kedatangan kargo dan meningkatkan biaya angkut.
Perlambatan ini juga berpotensi mengganggu rantai pasok global dan mendorong lonjakan ongkos transportasi energi.
Baca Juga: China Serukan Penghentian Operasi Militer Usai Iran Tutup Selat Hormuz
Antrean panjang di titik sempit selat memperbesar ketidakpastian pengiriman, terutama bagi negara-negara pengimpor utama.
Situasi kian memanas setelah muncul laporan bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengirim pesan kepada kapal-kapal di kawasan bahwa tidak ada kapal yang diizinkan melintas.
Meski belum ada konfirmasi resmi terkait penutupan formal, media Iran mengklaim selat tersebut secara efektif telah ditutup.
Sementara itu, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) menyatakan tingkat keamanan maritim di Selat Hormuz dinaikkan ke level kritis, kategori risiko tertinggi, setelah terkonfirmasi adanya beberapa serangan terhadap kapal komersial di Teluk Oman dan perairan pesisir Uni Emirat Arab.
(Sumber: Antara)
Ilustrasi Selat Hormuz, Iran. /ANTARA/Anadolu/py. (Antara)