Ntvnews.id, Jakarta - Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran internasional. Ia menilai kekhawatiran mengenai kemungkinan penutupan jalur laut strategis tersebut seharusnya diarahkan kepada Amerika Serikat yang dinilai mengganggu keamanan kawasan.
“Yang khawatir berkaitan dengan penutupan selat Hormuz harus menanyakan kepada Amerika Serikat yang datang dari jauh sekali ke kawasan Timur Tengah kemudian mengganggu keamanan di selat Hormuz,” kata Dubes Boroujerdi kepada media saat ditemui di kediamannya di Jakarta, Kamis, dilansir Antara.
Boroujerdi menekankan bahwa Iran tidak menutup jalur pelayaran tersebut. Menurutnya, otoritas Iran hanya menerapkan protokol lalu lintas khusus pada masa perang untuk menjaga keamanan di wilayah perairan itu.
Ia menjelaskan bahwa kapal-kapal yang mematuhi aturan yang diberlakukan tetap dapat melintasi selat tersebut tanpa hambatan.
Baca Juga: Drone Iran Berhasil Hantam Kapal Induk USS Abraham Lincoln Milik Amerika Serikat
"Selat Hormuz tidak ditutup. Selat Hormoz tetap terbuka. Dan kami hanya sebagai pihak yang menyelenggarakan keamanan. Di selat ini hanya memperlakukan protokol lalu lintas yang khusus untuk saat-saat perang. Pihak-pihak yang memang mematuhi protokol tersebut bisa dengan mudah melewati selat Hormuz," katanya menegaskan.
Lebih lanjut, Boroujerdi menyebut Iran telah berperan menjaga keamanan Selat Hormuz selama ratusan tahun. Ia menyatakan upaya tersebut dilakukan untuk menjamin stabilitas kawasan sekaligus melindungi kepentingan seluruh negara, termasuk Iran sendiri.
Ia juga menekankan bahwa keamanan di selat tersebut tidak boleh dimanfaatkan oleh pihak mana pun untuk kepentingan tertentu.
Baca Juga: IHSG Jumat Dibuka Melemah ke 7.699, Konflik Iran–AS Picu Kekhawatiran Pasar
Secara geografis, Selat Hormuz berada di antara Teluk Persia dan Teluk Oman. Jalur ini menjadi satu-satunya akses laut dari Teluk Persia menuju laut lepas, sehingga menjadikannya salah satu titik paling vital secara strategis di dunia. Sekitar 20 persen konsumsi minyak global melewati perairan tersebut.
Sebelumnya, sejumlah media Iran melaporkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran menutup Selat Hormuz untuk lalu lintas kapal. Laporan itu menyebut jalur utama pengiriman minyak dan gas tersebut tidak aman akibat serangan dari Amerika Serikat dan Israel.
Dampak dari situasi tersebut langsung terasa di pasar energi. Harga minyak di pasar Asia dilaporkan melonjak sekitar 13 persen hingga mencapai 80 dolar AS per barel, dan berpotensi menembus 100 dolar AS per barel apabila penutupan berlangsung dalam waktu lama.
Kondisi di Selat Hormuz juga berdampak pada aktivitas pelayaran di kawasan Teluk. Dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) dilaporkan masih berada di area tersebut hingga kini.
Ilustrasi - Selat Hormuz, Iran. ANTARA/Anadolu/py. (Antara)