Ntvnews.id, Turkiye - Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, menyerukan agar konflik yang tengah berkecamuk di kawasan Timur Tengah segera dihentikan. Ia memperingatkan bahwa perang yang terus berlangsung berpotensi meluas ke seluruh kawasan dan menimbulkan dampak yang lebih besar terhadap perekonomian global.
"Perang ini harus dihentikan sebelum menjadi lebih besar dan sepenuhnya membakar wilayah tersebut," kata Erdogan, dilansir dari Al Arabiya, Kamis, 12 Maret 2026.
Dia juga menyebut Timur Tengah sebagai "sekali lagi diselimuti bau darah dan mesiu."
Erdogan menilai penyelesaian konflik masih dapat dicapai jika jalur diplomasi benar-benar dimanfaatkan.
"Jika diplomasi diberi kesempatan, ini sepenuhnya mungkin," tegasnya.
Pernyataan Erdogan muncul sehari setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara efektif menolak kemungkinan negosiasi dengan Amerika Serikat. Araghchi menyatakan bahwa Teheran memiliki "pengalaman yang sangat pahit dalam berbicara dengan Amerika."
Baca Juga: Anwar Ibrahim Telepon Presiden Turki Erdogan Bahas Insiden Rudal dari Iran
Konflik yang terjadi di kawasan tersebut dipicu oleh serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Sejak saat itu, perang telah menimbulkan banyak korban jiwa, memicu gelombang pengungsian, serta menyebabkan kerusakan luas di berbagai wilayah.
Selain dampak kemanusiaan, konflik tersebut juga mengguncang pasar energi global. Ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah yang merupakan jalur penting perdagangan energi dunia telah memicu kenaikan harga minyak.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (Reuters)
"Jika perang yang tidak masuk akal, melanggar hukum, dan tidak teratur ini berlanjut, akan ada lebih banyak korban jiwa dan harta benda, dan kerugian bagi perekonomian global akan meningkat lebih jauh lagi," tambah Erdogan.
Ia juga menegaskan bahwa pemerintah Turki saat ini terus berupaya mendorong solusi diplomatik untuk meredakan konflik.
Sejak pecahnya perang tersebut, Teheran juga melancarkan serangkaian serangan balasan yang menargetkan sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berbicara pada pembukaan Forum Diplomasi Antalya keempat di Antalya, Türkiye pada 11 April 2025. ANTARA/Xinhua/Mustafa Kaya (Antara)