Intelijen AS Akui Rezim Iran Masih Kuat Meski Dibombardir AS-Israel Hampir 2 Pekan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 12 Mar 2026, 14:04
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Arsip foto - Presiden AS Donald Trump. ANTARA/Anadolu Ajansi/pri. Arsip foto - Presiden AS Donald Trump. ANTARA/Anadolu Ajansi/pri. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Laporan intelijen terbaru Amerika Serikat menyimpulkan bahwa pemerintahan Iran masih bertahan dan tidak berada dalam ancaman runtuh dalam waktu dekat, meskipun negara itu telah menghadapi hampir dua minggu serangan militer intensif dari Amerika Serikat dan Israel.

Tiga sumber yang mengetahui isi laporan tersebut menyebutkan bahwa berbagai analisis intelijen memberikan kesimpulan serupa mengenai stabilitas politik di Iran. Penilaian tersebut menunjukkan bahwa struktur kekuasaan di Teheran tetap berfungsi dan masih mampu mengendalikan situasi domestik.

Salah satu sumber menyatakan bahwa sejumlah laporan intelijen memberikan "analisis yang konsisten bahwa rezim tersebut tidak dalam bahaya untuk kolaps dan tetap mengendalikan publik Iran," sebagaimana dilaporkan Reuters dan Al Arabiya, Kamis (12/3/2026).

Laporan terbaru itu diselesaikan dalam beberapa hari terakhir. Di tengah meningkatnya tekanan politik akibat lonjakan harga minyak global, Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan bahwa operasi militer besar Amerika Serikat kemungkinan akan segera diakhiri. Operasi tersebut disebut sebagai yang terbesar sejak Iraq War.

Namun, laporan intelijen itu juga menegaskan bahwa upaya menemukan penyelesaian konflik dapat menjadi rumit jika para pemimpin garis keras Iran tetap mempertahankan posisi mereka.

Baca Juga: Bus Transjabodetabek Blok M-Bandara Soetta Dilengkapi Tempat Koper

Penilaian intelijen tersebut muncul meskipun konflik telah menimbulkan guncangan besar dalam kepemimpinan Iran. Pada hari pertama serangan gabungan AS dan Israel, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei tewas dalam serangan pada 28 Februari.

Meski demikian, sistem kekuasaan ulama di Iran dinilai tetap solid. Struktur pemerintahan masih berjalan, sementara aparat keamanan dan militer mempertahankan kontrol atas negara.

Pengakuan serupa juga muncul dari pejabat Israel. Dalam pembicaraan tertutup, mereka mengakui tidak ada jaminan bahwa perang yang berlangsung akan mampu menjatuhkan pemerintahan ulama Iran.

Sejak dimulainya operasi militer, Amerika Serikat dan Israel telah menargetkan berbagai fasilitas penting Iran, termasuk sistem pertahanan udara, fasilitas nuklir, serta sejumlah tokoh senior pemerintahan.

Serangan itu juga menewaskan puluhan pejabat penting dan beberapa komandan berpangkat tinggi dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), pasukan elit paramiliter Iran yang memiliki pengaruh besar dalam struktur militer dan ekonomi negara.

Baca Juga: Prabowo Kirim Surat ke DPR, Terkait RUU Keamanan dan Ketahanan Siber

Meski kehilangan sejumlah tokoh kunci, laporan intelijen AS menyebut bahwa IRGC bersama para pemimpin sementara yang mengambil alih setelah kematian Khamenei masih mampu mengendalikan situasi di dalam negeri.

Transisi kepemimpinan juga berlangsung cepat. Assembly of Experts, lembaga ulama senior Syiah Iran, awal pekan ini menetapkan putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi baru Iran.

Menurut sumber lain yang mengetahui perkembangan situasi, menjatuhkan pemerintah Iran kemungkinan memerlukan operasi militer darat yang memungkinkan rakyat Iran melakukan protes secara aman di jalanan.

Hingga saat ini, pemerintahan Trump belum menutup kemungkinan mengirim pasukan darat Amerika Serikat ke Iran.

x|close