Ntvnews.id, Washington D.C - Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance mengungkapkan rencananya untuk menghadiri upacara penandatanganan perjanjian damai antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa, Swiss.
Vance menyampaikan bahwa Presiden Donald Trump juga berpeluang hadir langsung dalam acara tersebut, meskipun hingga saat ini para pejabat masih menyelesaikan berbagai pengaturan teknis dan logistik terkait pelaksanaan upacara.
"Saya tentu berencana untuk berada di sana, tetapi ada kemungkinan presiden sendiri yang akan hadir," ujar Vance dalam sebuah wawancara telepon di saluran Fox News, seperti dikutip dari Anadolu, Selasa, 16 Juni 2026.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah AS masih membahas siapa saja yang akan mewakili negara tersebut dalam agenda penting tersebut.
Pernyataan Vance muncul setelah diumumkannya kesepakatan damai antara Washington dan Teheran yang disebutnya sebagai capaian besar bagi Amerika Serikat. Sebelumnya, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan bahwa kedua negara telah berhasil mencapai kesepakatan setelah menjalani serangkaian perundingan intensif.
Menurut Sharif, kesepakatan tersebut mencakup penghentian segera dan permanen seluruh operasi militer di berbagai medan konflik, termasuk yang berkaitan dengan situasi di Lebanon.
"Menyusul pembicaraan yang intensif, kami dengan senang hati mengumumkan bahwa Kesepakatan Damai antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran telah dicapai, Kedua belah pihak telah mendeklarasikan penghentian segera dan permanen atas operasi militer di semua lini, termasuk di Lebanon," tulis Sharif dalam sebuah unggahan di platform media sosial X.
Baca Juga: Warga Iran Gelar Aksi Protes, Tolak Kesepakatan Damai dengan Amerika Serikat
Berdasarkan keterangan resmi yang disampaikan Sharif, penandatanganan formal perjanjian damai tersebut dijadwalkan berlangsung pada 19 Juni di Swiss. Sementara itu, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa seluruh proses negosiasi dengan Iran telah rampung dan kesepakatan sudah difinalisasi.
Bersamaan dengan pengumuman tersebut, Trump juga memberikan persetujuan untuk membuka kembali Selat Hormuz serta memerintahkan penghentian blokade angkatan laut Amerika Serikat di kawasan itu.
"Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah selesai. Selamat untuk semuanya! Dengan ini saya mengotorisasi penuh pembukaan Selat Hormuz secara bebas biaya, dan, secara bersamaan dengan ini, mengotorisasi penarikan segera blokade Angkatan Laut Amerika Serikat," deklarasi Trump melalui unggahan di platform miliknya, Truth Social.
Ilustrasi Amerika Serikat dan Iran. /ANTARA/Anadolu/py. (Antara)
Selain itu, Trump memberikan sinyal dimulainya kembali aktivitas pelayaran internasional melalui Selat Hormuz, termasuk distribusi minyak dan komoditas energi lainnya yang selama ini terdampak ketegangan di kawasan.
"Kapal-kapal di dunia, hidupkan mesin kalian. Biarkan minyak mengalir!" seru Trump.
Jika terealisasi sesuai jadwal, penandatanganan perjanjian damai tersebut akan menjadi salah satu perkembangan diplomatik paling signifikan dalam hubungan AS dan Iran dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus membuka peluang bagi stabilitas yang lebih besar di kawasan Timur Tengah.
Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance. ANTARA/Celal Gunes/Anadolu/pri. (Antara)