Eropa Tolak Ajakan AS Kirim Pasukan ke Selat Hormuz, Pilih Jalur Diplomasi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 17 Mar 2026, 18:30
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Deretan bendera negara-negara anggota di markas besar Komisi Eropa di Brussel, Belgia. ANTARA/Anadolu/py. Ilustrasi - Deretan bendera negara-negara anggota di markas besar Komisi Eropa di Brussel, Belgia. ANTARA/Anadolu/py. (Antara)

Ntvnews.id, Brussels – Sejumlah negara Eropa menolak ajakan Amerika Serikat untuk mengerahkan kekuatan angkatan laut ke Selat Hormuz, dengan menegaskan tidak ingin terlibat dalam konflik militer yang kian meningkat dengan Iran.

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas menyampaikan sikap tersebut usai pertemuan para menteri luar negeri Uni Eropa di Brussels, Senin, 16 Maret 2026.

Ia menekankan bahwa Eropa “tidak tertarik pada perang tanpa akhir.”

Kallas menjelaskan bahwa fokus utama Uni Eropa saat ini adalah memperkuat keamanan maritim, namun tidak ada keinginan dari negara anggota untuk memperluas misi yang sudah ada, seperti Operasi Aspides di Laut Merah, hingga ke Selat Hormuz.

"Tidak ada yang ingin secara aktif terlibat dalam perang ini," katanya, seraya menambahkan bahwa prioritas utama tetap pada menjaga kebebasan navigasi dan meningkatkan upaya diplomatik.

Pandangan serupa juga disampaikan Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani yang menegaskan bahwa misi angkatan laut Uni Eropa tidak dirancang untuk beroperasi di kawasan tersebut.

“Kami bersedia memperkuat misi-misi ini,” katanya, tetapi saya rasa misi-misi tersebut tidak dapat diperluas hingga mencakup Selat Hormuz.”

Dari Jerman, Kanselir Friedrich Merz dengan tegas menolak pengiriman pasukan ke Teluk dan menyerukan penyelesaian konflik melalui jalur politik. Sementara itu, Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius mengingatkan bahwa pengerahan militer di luar wilayah NATO membutuhkan persetujuan hukum serta parlemen.

Baca Juga: Uni Eropa Bahas Situasi Timur Tengah dan Upaya Menjaga Selat Hormuz Tetap Terbuka

“Ini bukan perang kami; kami tidak memulainya. Kami menginginkan solusi diplomatik dan penyelesaian konflik yang cepat," ujarnya.

Sikap serupa juga ditunjukkan oleh Perdana Menteri Inggris Keir Starmer yang menolak tekanan dari Washington untuk ikut serta dalam operasi militer di kawasan tersebut.

Inggris, menurutnya, “tidak akan terlibat dalam perang yang lebih luas” dan menekankan bahwa setiap pengerahan militer harus memiliki dasar hukum yang jelas.

Negara lain seperti Polandia dan Belgia juga menegaskan komitmen mereka terhadap stabilitas regional melalui jalur diplomasi. Menteri Luar Negeri Polandia Radoslaw Sikorski bahkan mengkritik Presiden AS Donald Trump terkait sikapnya terhadap NATO.

Baca Juga: Survei: Mayoritas warga Eropa menentang serangan AS-Israel ke Iran

Sementara itu, Perdana Menteri Belgia Bart De Wever menegaskan bahwa negaranya tidak akan terlibat dalam serangan militer bersama AS dan Israel.

Sebelumnya, Trump mengklaim bahwa “banyak negara” siap membantu AS membuka kembali Selat Hormuz, meskipun ia tidak menyebutkan negara mana saja yang dimaksud dengan alasan keamanan.

Selat Hormuz sendiri menjadi pusat perhatian pasar energi global setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran mengumumkan penutupan sebagian jalur pelayaran menyusul serangan AS-Israel terhadap Iran sejak 28 Februari.

Sebelum konflik memanas, sekitar 20 juta barel minyak per hari melintasi selat tersebut. Gangguan yang terjadi kini telah mendorong lonjakan harga minyak dunia.

(Sumber: Antara)

x|close