Survei LPEM FEB UI: Mayoritas Ekonom Tidak Melihat Perbaikan Ekonomi Indonesia

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 17 Mar 2026, 13:55
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi. Perancis bakal keluar dari daftar 10 negara dengan perekonomian terbesar di dunia dalam l Ilustrasi. Perancis bakal keluar dari daftar 10 negara dengan perekonomian terbesar di dunia dalam l

Ntvnews.id, Jakarta - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) baru saja merilis Economic Experts Survey Semester I 2026. 

Adapun survei ini merupakan putaran ketiga, setelah sebelumnya dilakukan pada Maret dan Oktober 2025. Menariknya, selama tiga putaran berturut-turut, para ahli masih belum melihat peningkatan kondisi ekonomi Indonesia.

"Sebanyak 85 ekonom menjadi responden survei ini. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia, antara lain: Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Banten, Gorontalo, Bali, Maluku Utara, Kalimantan Selatan, Lampung, Jawa Timur, dan Jambi," tulis laporan LPEM FEB UI dikutip, Selasa 17 Maret 2026.

Sementara itu, responden dari luar negeri berasal dari Australia, Inggris, Belanda, Selandia Baru, Singapura, Korea Selatan, dan Tiongkok, serta beberapa institusi multinasional.

Baca juga: LPEM FEB UI: 6 Ribu Lulusan S2-S3 Masih Nganggur dan Putus Asa Cari Kerja

Dalam laporan tersebut dijelaskan mayoritas ahli 42 persen memperkirakan pertumbuhan ekonomi tidak berubah dalam tiga bulan ke depan.

Tingkat keyakinan para ahli berada di 7,47 menunjukkan ketidakpastian masih cukup tinggi. Rata-rata respons tercatat -0,11, sedikit membaik dari survei sebelumnya -0,13.

"Namun perubahannya sangat kecil. Karena itu, prospek pertumbuhan ekonomi masih terlihat lesu," lanjutnya.

Penilaian Inflasi Saat Ini dan 3 Bulan ke Depan

Kondisi saat ini, mayoritas ahli 67 persen menilai inflasi lebih tinggi dibanding tiga bulan lalu. Rata-rata penilaian mencapai +0,71, meningkat dari hasil survei sebelumnya +0,47.

Kondisi ini perlu diwaspadai, karena kenaikan harga barang dan jasa dapat menggerus daya beli masyarakat.

Sementara dalam tiga bulan ke depan, mayoritas ahli 75 persen memperkirakan tekanan inflasi akan meningkat. Rata-rata penilaian mencapai +0,91 dengan tingkat keyakinan 7,60, menunjukkan kekhawatiran yang menguat.

Sebagian ahli mengaitkan prospek ini dengan ketegangan geopolitik yang berpotensi mengganggu rantai pasok global dan pasar energi, sehingga mendorong kenaikan harga domestik.

Baca juga: Laporan LPEM FEB UI Ungkap 45.000 Sarjana Putus Asa Cari Kerja, Apa Penyebabnya?

Penilaian Lingkungan Bisnis Saat Ini dan 3 Bulan ke Depan

Kondisi saat ini, mayoritas ahli 45 persen menilai kondisi lingkungan bisnis memburuk dibandingkan tiga bulan lalu. Rata-rata penilaian tercatat -0,67, lebih rendah dari survei ssebelumnya -0,45, menandakan perbaikan yang sempat muncul tidak bertahan lama.

Tiga bulan ke depan mayoritas ahli 47 persen memperkirakan kondisi lingkungan bisnis akan tetap tidak berubah. bahkan 46 persen ahli justru memperkirakan kondisi memburuk.

Rata-rata respons tercatat tercatat -0,49, lebih tinggi dari survei sebelumnya -0,28. Hal ini menunjukkan kekhawatiran para ahli terus menumpuk.

x|close