A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Invalid argument supplied for foreach()

Filename: libraries/General.php

Line Number: 87

Backtrace:

File: /www/ntvweb/application/libraries/General.php
Line: 87
Function: _error_handler

File: /www/ntvweb/application/controllers/Read.php
Line: 64
Function: popular

File: /www/ntvweb/index.php
Line: 326
Function: require_once

Trump Tegaskan Tak Kirim Pasukan Darat ke Iran, Namun... - Ntvnews.id

Trump Tegaskan Tak Kirim Pasukan Darat ke Iran, Namun...

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 24 Mar 2026, 04:50
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip Foto - Donald Trump saat berbicara dalam Konferensi Aksi Politik Konservatif (CPAC) di National Harbor, Maryland, Amerika Serikat, Jumat (15/3/2013). ANTARA/Flickr/Gage Skidmore/am. Arsip Foto - Donald Trump saat berbicara dalam Konferensi Aksi Politik Konservatif (CPAC) di National Harbor, Maryland, Amerika Serikat, Jumat (15/3/2013). ANTARA/Flickr/Gage Skidmore/am. (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan tidak berencana mengerahkan pasukan darat dalam konflik AS-Israel melawan Iran, meski ia mengakui masih mempertimbangkan berbagai langkah yang berpotensi melibatkan operasi militer di darat.

Pernyataan tersebut dinilai masih membuka kemungkinan perubahan kebijakan di kemudian hari.

"Saya tidak akan mengerahkan pasukan ke mana pun," kata Trump kepada seorang reporter yang bertanya tentang penggunaan pasukan darat, dilansir dari The New York Time, Selasa, 24 Maret 2026.

"Jika saya melakukannya, saya tentu tidak akan memberi tahu Anda." tambahnya.

Dalam beberapa hari terakhir, Trump kerap berganti nada, antara mengancam akan meningkatkan serangan terhadap Iran yang ia sebut sebagai “operasi” atau “ekskursi” dan menyatakan bahwa konflik tersebut mendekati penyelesaian.

Baca Juga: Trump Klaim Ultimatum ke Iran Akan Berjalan Lancar

Pernyataan terbarunya muncul hanya dua hari setelah ia mengatakan tidak ragu mengirim pasukan darat AS jika diperlukan.

Di sisi lain, muncul laporan bahwa Pentagon mengajukan anggaran sebesar 200 miliar dolar AS (sekitar Rp3.400 triliun) untuk mendukung operasi militer melawan Iran. Anggaran besar ini diperkirakan akan menghadapi penolakan di Capitol Hill.

Ketegangan di kawasan terus meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan awal terhadap Iran tiga pekan lalu. Dalam perkembangan terbaru, kedua pihak kembali saling menyerang infrastruktur energi strategis. Israel dilaporkan menargetkan kompleks gas alam South Pars milik Iran, sementara Qatar menuding Iran bertanggung jawab atas serangan rudal yang merusak Ras Laffan Industrial City.

Arsip - Presiden AS Donald Trump. (ANTARA/Anadolu Ajansi/pri) <b>(Antara)</b> Arsip - Presiden AS Donald Trump. (ANTARA/Anadolu Ajansi/pri) (Antara)

Rangkaian serangan tersebut sempat mengguncang pasar global dan mendorong lonjakan harga minyak sebelum akhirnya kembali mereda. Situasi ini diduga memengaruhi pernyataan Trump yang terdengar lebih moderat saat menanggapi dampak ekonomi konflik.

Ia mengakui bahwa serangan terhadap Iran berpotensi menaikkan harga minyak dan memperlambat ekonomi, meski diyakini hanya bersifat sementara.

"Saya pikir ada kemungkinan situasinya bisa jauh lebih buruk," katanya. "Ini tidak buruk, dan akan segera berakhir."

Meski demikian, pemerintah AS menunjukkan sinyal kesiapan menghadapi konflik berkepanjangan. Biaya operasi selama enam hari pertama saja dilaporkan telah mencapai lebih dari 11,3 miliar dolar AS, yang menunjukkan potensi pembiayaan perang dalam jangka panjang.

Baca Juga: Trump: AS Gak Butuh Bantuan Sekutu di Selat Hormuz!

AS juga tengah mempertimbangkan sejumlah opsi militer strategis, termasuk kemungkinan menguasai Pulau Kharg pusat ekspor utama minyak Iran serta menyerang fasilitas nuklir bawah tanah di Isfahan. Kedua operasi tersebut berpotensi memerlukan pengerahan pasukan darat.

Selain itu, sekitar 2.500 personel Marinir dari unit ekspedisi ke-31 telah dipindahkan dari kawasan Indo-Pasifik ke Timur Tengah, sehingga total kekuatan militer AS di kawasan tersebut kini mencapai sekitar 50.000 personel. Penempatan ini mengindikasikan kemungkinan rencana operasi darat, termasuk di wilayah strategis seperti Selat Hormuz.

Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun Trump menyatakan tidak akan mengerahkan pasukan darat, opsi militer tetap terbuka di tengah eskalasi konflik yang terus berkembang.

TERKINI

Inggris Keluarkan Travel Warning ke 14 Negara

Luar Negeri Selasa, 24 Mar 2026 | 06:20 WIB

Kapal Induk AD Ditarik dari Timur Tengah

Luar Negeri Selasa, 24 Mar 2026 | 06:00 WIB

Memon Ultah Didit, Prabowo Unggah Foto Lawas

Nasional Selasa, 24 Mar 2026 | 05:25 WIB

Trump Tegaskan Tak Kirim Pasukan Darat ke Iran, Namun...

Luar Negeri Selasa, 24 Mar 2026 | 04:50 WIB

VIDEO: Dua Rumah Mewah Terbakar Hebat di Lampung

Viral Selasa, 24 Mar 2026 | 04:42 WIB

Geger Mayat Misterius Mengapung di Pulau Dua Kota Serang

Metro Selasa, 24 Mar 2026 | 04:29 WIB
Load More
x|close