Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menawarkan pasokan bahan bakar minyak (BBM) kepada negara-negara sahabat yang bersedia membantu Washington dalam konflik, menyusul penutupan jalur vital perdagangan energi global di Selat Hormuz oleh Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump melalui unggahan di platform media sosial miliknya, Truth Social, Dalam unggahan itu, ia sekaligus menyindir sejumlah negara sekutu yang enggan terlibat dalam konflik melawan Iran dengan alasan krisis energi, termasuk Inggris.
"Seluruh negara yang tak bisa mengisi bahan bakar karena Selat Hormuz, seperti Inggris yang menolak terlibat melawan Iran, saya menyarankan kepada anda. Pertama: beli dari AS, kami punya banyak stok," kata Trump, sebagaiman dikutip dari AFP, Rabu, 1 April 2026.
Dia lalu berujar, "Kedua: kumpulkan keberanian dan kunjungi Hormuz, ambil sendiri."
Selain itu, Trump juga mengkritik negara-negara yang dinilai tidak menunjukkan dukungan terhadap AS dalam menghadapi Iran. Ia menegaskan bahwa ke depan Washington tidak akan lagi memberikan bantuan kepada pihak-pihak yang dianggap tidak solid dalam aliansi.
"Anda harus mulai belajar bagiamana berjuang untuk diri sendiri, AS tak akan lagi membantu Anda, seperti Anda yang tak ada untuk kami."
Trump juga menyatakan bahwa kondisi Iran saat ini telah mengalami kehancuran signifikan dan mengklaim fase terberat konflik telah terlewati.
"Sana, ambil minyak Anda!" kata Presiden AS ini.
Ilustrasi - Tingkat kepuasan terhadap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah turun dalam beberapa hari terakhir ke level terendah sejak dimulainya masa jabatan keduanya, dipicu oleh lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) dan penolakan luas (Antara)
Dalam unggahan lainnya, Trump turut menyoroti Prancis yang disebutnya tidak membantu AS karena menolak memberikan izin bagi pesawat pengangkut untuk melintas di wilayah udaranya.
Selama ini, Trump kerap melontarkan kritik terhadap negara-negara Eropa yang dinilai tidak sejalan dengan langkah militer AS di kawasan Teluk Persia.
Diketahui, AS bersama sekutunya, termasuk Israel, melancarkan serangan besar-besaran ke Iran sejak 28 Februari. Operasi tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta ribuan warga lainnya.
Baca Juga: Jutaan Warga Amerika Serikat Turun ke Jalan Tolak Gaya Otoriter Donald Trump
Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan balasan ke wilayah Israel dan aset milik AS di negara-negara Teluk. Tak hanya itu, Teheran juga menutup Selat Hormuz sebagai langkah tekanan terhadap kedua negara tersebut.
Penutupan jalur strategis ini memicu kekhawatiran akan krisis energi global dan lonjakan harga BBM. Sejumlah negara pun mulai menerapkan kebijakan penghematan energi, mulai dari penerapan kerja dari rumah bagi aparatur sipil negara hingga pembatasan pembelian bahan bakar.
Arsip Foto - Donald Trump saat berbicara dalam Konferensi Aksi Politik Konservatif (CPAC) di National Harbor, Maryland, Amerika Serikat, Jumat (15/3/2013). ANTARA/Flickr/Gage Skidmore/am. (Antara)