Wamen Stella: Geothermal Belum Optimal karena Biaya Mahal

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 7 Apr 2026, 11:15
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie dalam kegiatan halal bihalal bersama media di Jakarta, Senin 6 April 2026. ANTARA/Sean Filo Muhamad Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie dalam kegiatan halal bihalal bersama media di Jakarta, Senin 6 April 2026. ANTARA/Sean Filo Muhamad (Antara)

Ntvnews.id

, Jakarta - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengungkapkan salah satu kendala utama pemanfaatan energi panas bumi (geothermal) di Indonesia adalah tingginya biaya produksi listrik dibandingkan energi berbasis fosil.

"Kenapa sampai saat ini belum berhasil (implementasi) geothermal adalah masalah harga listrik pada fossil fuel dari batu bara itu sekitar 7-8 cent per kilowatt hours (kWh), sementara geothermal itu masih sekitar 18 cent per kilowatt hours di Indonesia," kata Stella di Jakarta, Senin, 6 April 2026.

Ia menjelaskan, tingginya biaya listrik dari panas bumi tidak hanya menjadi tantangan di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara lain, sehingga pemanfaatannya belum optimal secara global.

Baca Juga: Wamen Stella Buka Suara soal Polemik Alumni LPDP Suami Dwi Sasetyaningtyas yang Belum Mengabdi

Meski demikian, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemimpin dalam pengembangan energi ini karena potensi sumber daya yang melimpah.

Menurut Stella, sekitar 40 persen cadangan energi panas bumi dunia berada di Indonesia. Namun, pemanfaatannya saat ini baru mencapai sekitar 10 persen dari total potensi yang ada.

"Kita di Indonesia baru menggunakan 10 persen dari geothermal. Sehingga, kita harus sungguh-sungguh seperti apa yang saya katakan, bekerja sama dengan berbagai instansi untuk melihat kembali ekosistem geothermal di Indonesia," ujarnya menegaskan.

Ia juga menekankan pentingnya penguatan riset aplikatif guna mempercepat pemanfaatan energi panas bumi secara lebih luas.

Energi ini dinilai memiliki keunggulan karena bersifat bersih dan stabil, tidak bergantung pada kondisi cuaca seperti energi surya atau angin.

Baca Juga: Stella Christie dan Denny JA Ditunjuk Jadi Komisaris Pertamina Hulu Energi

Dalam konteks kebijakan nasional, pemerintah menempatkan riset energi sebagai salah satu prioritas dalam Program Riset Strategis Nasional untuk mendukung target bauran energi terbarukan sebesar 23 persen.

Selain itu, pengembangan geothermal juga menjadi bagian dari komitmen Indonesia dalam mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada 2060 atau lebih cepat, sebagaimana tertuang dalam Enhanced Nationally Determined Contribution (E-NDC).

(Sumber: Antara)

x|close