Ntvnews.id, Istanbul - Harga minyak mentah Brent Crude Oil kembali mengalami kenaikan pada Kamis, 9 April 2026 di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap pasokan global. Kondisi ini dipicu oleh laporan media Iran serta gangguan yang kembali terjadi di Selat Hormuz, sekaligus menimbulkan keraguan terhadap efektivitas gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat.
Pada perdagangan siang, harga minyak Brent tercatat naik sekitar 2,5 persen hingga mendekati 97 dolar AS (sekitar Rp1,66 juta) per barel pada pukul 12.50 WIB. Kenaikan ini terjadi setelah sehari sebelumnya harga sempat merosot lebih dari 16 persen ke level sekitar 90 dolar AS, yang merupakan posisi terendah dalam lebih dari satu bulan.
Baca Juga: Trump Tegaskan Konflik Lebanon Tak Masuk Kesepakatan Gencatan Senjata AS-Iran
Sebelumnya, penurunan harga dipicu oleh kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran, yang sempat meredakan kekhawatiran terhadap gangguan distribusi energi di kawasan Timur Tengah.
Namun, situasi kembali berubah setelah kantor berita Tasnim News Agency melaporkan kemungkinan Iran menarik diri dari kesepakatan tersebut apabila Israel terus melakukan pelanggaran di Lebanon.
Selain itu, laporan media Iran menyebutkan bahwa arus kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz kembali terganggu pascaserangan Israel di Lebanon. Meski sebelumnya dua kapal sempat melintas dengan aman setelah pengumuman gencatan senjata, kondisi terbaru menunjukkan peningkatan ketegangan di jalur tersebut.
Baca Juga: Prabowo: Saya ke Luar Negeri untuk Amankan Minyak
Tasnim pada Kamis melaporkan bahwa "sejumlah besar" kapal kini tertahan di jalur strategis itu, menambah kekhawatiran akan kelancaran distribusi minyak dunia.
Laporan tersebut juga diperkuat oleh media penyiaran publik Iran, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), yang menyebut kapal-kapal yang hendak melintasi selat wajib berkoordinasi dengan Angkatan Laut Garda Revolusi Iran serta mengikuti jalur pelayaran yang telah ditentukan.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa ketegangan geopolitik di kawasan masih menjadi faktor utama yang memengaruhi volatilitas harga energi global.
(Sumber: Antara)
Ilustrasi - Bendera nasional Amerika Serikat dan Iran. (ANTARA/Anadolu/py.) (Antara)