Ntvnews.id, Kendari - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menyampaikan bahwa aktivitas Sesar Lawanopo di Sulawesi Tenggara berpotensi memicu gempa bumi dengan kekuatan hingga magnitudo 7,6.
Fungsional Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Ahli Madya Stasiun Geofisika Kendari, Imanuela Indah Pertiwi, menjelaskan bahwa Sesar Lawanopo merupakan salah satu patahan aktif terpanjang di wilayah tersebut, dengan panjang mencapai sekitar 130 kilometer.
"Berdasarkan penelitian dari Tim Pusat Studi Gempa Nasional (PusGeN) tahun 2024, patahan ini memiliki potensi gempa bumi dengan magnitudo maksimum mencapai 7,6," kata Imanuela Indah, Senin, 13 April 2026.
Ia menjelaskan bahwa secara geografis jalur patahan ini membentang dari barat laut ke tenggara, melintasi sejumlah wilayah seperti Kabupaten Kolaka Utara, Konawe, hingga Konawe Utara.
Baca Juga: Gempa Bumi M 7,6 Guncang Bitung Sulut, Peringatan Tsunami Dikeluarkan
Beberapa titik yang dilalui antara lain Kecamatan Batu Putih dan Pakue Utara di Kolaka Utara, Kecamatan Latoma, Routa, dan Amonggedo di Konawe, serta wilayah Asera, Andowia, Molawe, Lasolo, dan Wawolesea di Konawe Utara.
Imanuela juga mengungkapkan bahwa aktivitas sesar ini terakhir terdeteksi cukup signifikan melalui gempa bermagnitudo 4,3 pada 8 Maret 2026, yang getarannya dirasakan hingga Kendari dan Kolaka Timur.
Terkait potensi dampak, ia menyebut risiko utama dari aktivitas sesar ini adalah kerusakan bangunan di sekitar jalur patahan. Namun, potensi tsunami dinilai kecil karena lokasi sesar berada di daratan.
"Peluang tsunami relatif kecil karena ini sesar darat. Kecuali jika terjadi gempa besar yang memicu longsoran bawah laut, barulah kondisi tersebut memungkinkan terjadinya tsunami," ujar Imanuela Indah.
Sebagai langkah mitigasi, BMKG mendorong pemerintah daerah untuk memperketat standar konstruksi bangunan tahan gempa, terutama pada fasilitas publik di sekitar jalur sesar.
"Saat ini BMKG juga telah memperkuat sistem monitoring dengan menambah alat perekam getaran di sepanjang jalur tersebut," katanya.
Baca Juga: BPBD: Dua Rumah Rusak Akibat Angin Kencang di Buol Sulteng
Ia juga menjelaskan bahwa sistem peringatan dini BMKG mampu menyampaikan informasi gempa dalam waktu kurang dari tiga menit melalui perangkat Warning Receiver System (WSR) yang terintegrasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
"Masyarakat diminta untuk tidak panik namun tetap meningkatkan kesiapsiagaan, mengingat waktu terjadinya gempa bumi hingga saat ini belum dapat diprediksi secara akurat," tambahnya.
(Sumber: Antara)
Logo BMKG