BMKG: Tidak Ada Tanda El Nino “Godzilla” pada 2026

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 14 Apr 2026, 17:05
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Analisis dan prediksi ENSO. ANTARA/HO-BMKG Analisis dan prediksi ENSO. ANTARA/HO-BMKG (Antara)

Ntvnews.id, 

Cilacap - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memastikan bahwa pada tahun 2026 tidak terdapat indikasi terjadinya fenomena super El Nino atau yang kerap disebut sebagai El Nino “Godzilla”.

Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo, menyampaikan bahwa hingga semester pertama 2026 kondisi El Nino Southern Oscillation masih berada dalam fase netral.

“Memasuki semester kedua, ENSO berpotensi menuju El Nino lemah atau bahkan moderat dengan peluang sekitar 55 persen, terutama mulai periode Juni hingga Agustus,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa ENSO merupakan fenomena iklim global yang terjadi akibat interaksi antara laut dan atmosfer di kawasan Samudra Pasifik tropis. Fenomena ini ditandai dengan perubahan suhu permukaan laut dan tekanan udara.

Baca Juga:BMKG: 66 Persen Wilayah Jabar Dikepung Kemarau Lebih Awal dan Kering

ENSO sendiri memiliki tiga fase utama, yaitu El Nino, La Nina, dan netral. El Nino terjadi ketika terdapat anomali suhu permukaan laut yang lebih hangat (positif) di wilayah ekuator Pasifik tengah, khususnya di area Nino 3,4.

Sementara itu, La Nina merupakan kondisi sebaliknya, yakni anomali suhu yang lebih dingin (negatif).

Menurut Teguh, dampak El Nino di Indonesia umumnya berupa penurunan curah hujan, meskipun pengaruhnya sangat bergantung pada kondisi suhu perairan di wilayah Indonesia.

“Jika suhu perairan Indonesia cukup dingin, El Nino dapat mengurangi curah hujan secara signifikan. Namun jika suhu perairan relatif hangat, dampaknya bisa tidak terlalu terasa,” katanya.

Sebaliknya, La Nina cenderung meningkatkan curah hujan, terutama apabila diiringi dengan menghangatnya suhu permukaan laut di wilayah perairan Indonesia.

Ia juga menjelaskan bahwa kekuatan El Nino diukur dari anomali suhu permukaan laut di wilayah Nino 3,4.

Kategori El Nino dibagi menjadi lemah (0,5–0,9 derajat Celcius), moderat (1,0–1,4 derajat Celcius), kuat (1,5–1,9 derajat Celcius), dan sangat kuat jika mencapai atau melebihi 2,0 derajat Celcius.

Lebih lanjut, Teguh menegaskan bahwa istilah El Nino “Godzilla” bukanlah istilah resmi dari BMKG, melainkan hanya istilah populer di masyarakat untuk menggambarkan kejadian El Nino yang sangat kuat, seperti yang pernah terjadi pada tahun 1997 dan 2015.

Baca Juga: BULOG: Stok Beras Nasional Sebanyak 4,6 Juto Ton Tersebar Merata di Seluruh Indonesia, Ketahanan Pangan Aman Hadapi Ancaman El Nino

“BMKG tidak pernah merilis istilah El Nino Godzilla. Itu hanya istilah publik untuk menggambarkan El Nino yang sangat kuat dengan anomali suhu lebih dari 2 derajat Celcius,” katanya.

Ia memastikan bahwa pada 2026 tidak ada indikasi menuju super El Nino, melainkan hanya potensi El Nino dengan intensitas lemah yang mungkin berkembang pada paruh kedua tahun.

Meski demikian, masyarakat tetap diminta untuk waspada terhadap kemungkinan penurunan curah hujan, khususnya di wilayah yang rawan kekeringan, serta rutin memantau informasi resmi dari BMKG.

“Informasi perkembangan ENSO akan terus kami perbarui secara berkala agar masyarakat dapat melakukan langkah antisipasi secara dini,” kata Teguh.

(Sumber: Antara)

x|close