A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Invalid argument supplied for foreach()

Filename: libraries/General.php

Line Number: 87

Backtrace:

File: /www/ntvweb/application/libraries/General.php
Line: 87
Function: _error_handler

File: /www/ntvweb/application/controllers/Read.php
Line: 64
Function: popular

File: /www/ntvweb/index.php
Line: 326
Function: require_once

Kemlu Pastikan WNI di Lebanon Aman di Tengah Eskalasi Konflik - Ntvnews.id

Kemlu Pastikan WNI di Lebanon Aman di Tengah Eskalasi Konflik

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 16 Apr 2026, 23:45
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Foto kondisi bangunan yang rusak akibat serangan udara Israel di pinggiran selatan Beirut, Lebanon, Senin (9/3/2026). ANTARA FOTO/ Xinhua/Bilal Jawich/tom. Foto kondisi bangunan yang rusak akibat serangan udara Israel di pinggiran selatan Beirut, Lebanon, Senin (9/3/2026). ANTARA FOTO/ Xinhua/Bilal Jawich/tom. (Antara)

Ntvnews.id

, Jakarta - Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia memastikan seluruh warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Lebanon dalam kondisi aman meskipun konflik antara kelompok Hizbullah dan Israel terus mengalami eskalasi hingga ke ibu kota, Beirut.

“Sampai saat ini dapat dikonfirmasikan bahwa seluruh WNI yang berada di Lebanon dalam keadaan aman,” kata Direktur Perlindungan WNI Kemlu RI Heni Hamidah dalam taklimat media di Jakarta, Kamis, 16 April 2026.

Berdasarkan data dari KBRI Beirut, jumlah WNI di Lebanon saat ini tercatat sebanyak 934 orang. Dari jumlah tersebut, 178 merupakan warga sipil, termasuk pelajar dan WNI yang menikah dengan warga setempat, dengan mayoritas tinggal di Beirut.

Sementara itu, sebanyak 756 WNI lainnya merupakan personel TNI yang tergabung dalam misi UNIFIL.

Baca Juga: Situasi Mencekam! Hizbullah Luncurkan Serangan Roket ke Israel di Tengah Eskalasi Konflik

Heni menjelaskan bahwa KBRI Beirut terus melakukan pemantauan intensif serta menjalin komunikasi dengan seluruh WNI, termasuk personel TNI yang bertugas di wilayah Lebanon selatan.

“KBRI Beirut terus memantau, apabila sewaktu-waktu kondisi semakin buruk, rencana kontingensi telah disiapkan,” ucap Heni, sembari menambahkan bahwa rencana tersebut terus diperbarui mengikuti perkembangan situasi di lapangan.

Konflik antara Israel dan Hizbullah mulai memanas sejak 2 Maret 2026, ketika kelompok tersebut kembali meluncurkan serangan roket ke wilayah Israel di tengah meningkatnya ketegangan akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.

Sebagai respons, Israel melancarkan serangan besar-besaran ke sejumlah wilayah di Lebanon, termasuk Lebanon selatan, Lembah Beqaa, serta pinggiran Beirut.

Pada 16 Maret 2026, militer Israel juga mengumumkan dimulainya operasi darat di wilayah selatan Lebanon.

Baca Juga: Hizbullah Tolak Negosiasi dengan Israel, Tegaskan Lanjutkan Perlawanan

Sempat terjadi jeda setelah adanya pengumuman gencatan senjata dua pekan antara Iran dan Amerika Serikat, di mana Hizbullah menghentikan sementara operasinya.

Namun, serangan kembali berlanjut setelah Israel melancarkan serangan intensif ke Beirut dan sejumlah kota lain pada Sabtu, 8 Maret 2026, yang menyebabkan ratusan korban jiwa.

Data dari otoritas kesehatan Lebanon mencatat sedikitnya 2.089 orang meninggal dunia, sementara lebih dari 1 juta lainnya terpaksa mengungsi akibat konflik tersebut.

Dalam upaya meredakan ketegangan, pihak Lebanon dan Israel kini tengah menjajaki negosiasi langsung setelah dialog awal yang dimediasi oleh Amerika Serikat di Washington DC pada Selasa, 14 April 2026.

(Sumber: Antara)

x|close