Ntvnews.id, Jakarta - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar menjelaskan sejumlah langkah pemerintah agar harga obat tak ikut melonjak di tengah perang yang melibatkan Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Menurut dia, ada potensi risiko kenaikan biaya dan keterbatasan ekspor obat yang berdampak pada tekanan sektor transportasi energi dan lonjakan biaya produksi.
"Tentu rekomendasi dan langkah mitigasi Badan POM telah dilakukan (untuk menekan kenaikan harga obat)," ujar Taruna saat rapat dengan Komisi IX DPR RI, Senin, 20 April 2026.
Ia mengatakan, mitigasi yang telah dilakukan BPOM adalah melakukan pengawasan berbasis teknologi, optimalisasi kapasitas produksi obat, hingga kebijakan pendampingan industri di masa darurat. Lalu, jalur impor cepat juga dilakukan sehingga penyesuaian harga obat khusus yang berbasis petrokimia.
Baca Juga: DPR Harap Kenaikan BBM Nonsubsidi Tak Bikin Harga Sembako Naik
"Nah, harapan kami mudah-mudahan langkah cepat Badan POM ini bisa mengawal supaya tidak terjadi kelangkaan obat dan juga tidak terjadi peningkatan harga obat yang signifikan," jelas dia.
Taruna mengatakan, resiliensi terhadap tantangan global di tengah isu geopolitik yang kompleks, BPOM mengambil langkah peningkatan ketangguhan sistem pengawasan.
"Melalui kolaborasi strategi lintas sektoral untuk memitigasi risiko dan menjaga ketahanan kesehatan nasional," tandasnya.
Kepala BPOM Taruna Ikrar saat rapat dengan DPR. (YouTube TVR Parlemen)