Ntvnews.id, Tel Aviv - Militer Israel untuk pertama kalinya merilis peta wilayah selatan Lebanon yang menunjukkan garis penempatan terbaru pasukannya. Dalam peta tersebut, puluhan desa di Lebanon digambarkan berada dalam kendali Israel.
Dilansir dari Reuters, Selasa, 21 April 2026, peta itu dipublikasikan beberapa hari setelah gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon mulai berlaku dengan mediasi Amerika Serikat. Kesepakatan ini bertujuan menghentikan pertempuran sengit antara Tel Aviv dan kelompok Hezbollah.
Konflik di Lebanon sendiri meningkat sejak 2 Maret, setelah Hizbullah yang didukung Iran melancarkan serangan ke wilayah Israel. Sejak saat itu, serangan udara Israel dilaporkan menewaskan lebih dari 2.000 orang dan memaksa lebih dari satu juta warga mengungsi. Israel juga mengerahkan pasukan darat ke wilayah selatan Lebanon, dekat perbatasan.
Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Lebanon maupun Hizbullah terkait publikasi peta tersebut.
Kesepakatan gencatan senjata yang diumumkan setelah pembicaraan langsung pada 14 April dimaksudkan untuk membuka jalan bagi negosiasi yang lebih luas antara AS dan Iran. Namun, pasukan Israel tetap bertahan jauh di dalam wilayah Lebanon selatan.
Baca Juga: Trump Diduga Transfer Dana BoP Rp263 Triliun ke Israel, Warga Gaza Hanya Bisa Gigit Jari
Dalam peta tersebut, garis penempatan militer Israel membentang dari timur ke barat sejauh sekitar 5 hingga 10 kilometer dari perbatasan, sebagai bagian dari rencana pembentukan zona penyangga atau buffer zone.
Militer Israel menyatakan telah menghancurkan sejumlah desa yang berada dalam area tersebut, dengan alasan untuk melindungi wilayah utara Israel dari ancaman Hizbullah.
Sebelumnya, Israel juga membentuk zona penyangga di Suriah dan Jalur Gaza, di mana mereka menguasai lebih dari separuh wilayah tersebut.
Kerusakan akibat serangan tentara Israel terhadap kota Arab Salim di Kegubernuran Nabatieh, Lebanon selatan pada 9 April 2026. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan luas pada bangunan dan kendaraan di lokasi sasaran. ANTARA/Ahmad Kaddoura/Anadolu/p (Antara)
"Lima divisi, bersama dengan pasukan Angkatan Laut Israel, beroperasi secara bersamaan di wilayah selatan garis pertahanan depan di Lebanon bagian selatan untuk membongkar situs infrastruktur teror Hizbullah dan untuk mencegah ancaman langsung terhadap masyarakat di Israel bagian utara," kata militer Israel dalam pernyataannya.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menegaskan bahwa rumah-rumah di perbatasan yang digunakan oleh Hizbullah akan dihancurkan.
Ia juga menambahkan bahwa "setiap bangunan yang mengancam militer kita dan setiap jalan yang diduga (ditanam dengan) bahan peledak harus segera dihancurkan".
Ilustrasi gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon. (ANTARA/Anadolu Ajensi/pri.) (Antara)