Warga Papua Tewas Ditembak, DPR Minta Tim Investigasi Dibentuk

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 21 Apr 2026, 10:48
thumbnail-author
Moh. Rizky
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin. (NTVNews.id) Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin. (NTVNews.id)

Ntvnews.id, Jakarta - Sejumlah warga sipil tewas di Papua. Mereka disebut tewas ditembak. Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin meminta peristiwa yang terjadi di Kemburu, Kabupaten Puncak, Papua Tengah, diselesaikan secara cepat dan transparan oleh pemerintah. Ini guna mengungkap fakta sebenarnya di balik peristiwa tersebut.

“Harus ada tim yang benar-benar turun ke lapangan untuk memastikan apa yang sesungguhnya terjadi. Ini penting agar tidak menimbulkan keresahan di masyarakat, tetapi juga tidak memojokkan institusi TNI tanpa dasar yang jelas,” ujar TB Hasanuddin, Selasa, 21 April 2026.

Menurut dia, hingga kiki terdapat beragam laporan yang beredar di publik sehingga berpotensi menimbulkan keresahan. Atas itu, ia mendorong pembentukan tim investigasi yang melibatkan pemerintah daerah, pemerintah pusat, serta unsur gabungan termasuk aparat penegak hukum.

Diketahui, sejumlah warga dilaporkan tewas hingga mengalami luka-luka saat operasi militer di beberapa kampung Distrik Kembu, Puncak, Selasa, 14 April 2026. Peristiwa itu terjadi saat TNI terlibat kontak tembak dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Terkait korban jiwa, laporan sementara mengonfirmasi adanya warga yang meninggal dunia. Namun, jumlah pasti masih dalam proses verifikasi karena tim gabungan belum menjangkau tiga kampung terdampak di wilayah perbatasan, yakni Kampung Kembru, Nilome, dan wilayah Pintu Angin.

Di samping itu, dilaporkan pula adanya empat pasien yang menjalani perawatan intensif, terdiri dari satu orang dewasa (25 tahun) dan tiga anak-anak (usia 6-7 tahun). Terdapat juga satu korban luka berat yang dirujuk ke Jayapura untuk mendapatkan penanganan spesialis.

Menurut Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai, 15 orang tewas, 7 luka, dan 3 anak jadi korban baku tembak TNI vs OPM di Papua Tengah. 

Peristiwa tersebut pun mengakibatkan gelombang pengungsian warga dari Distrik Kembru dan Pogoma ke rumah kerabat di Distrik Sinak. Pemkab Puncak saat ini menetapkan status tanggap darurat 14 hari imbas teror OPM.

Terkait hal itu, TB Hasanuddin menegaskan pemerintah perlu segera mengambil langkah investigasi yang objektif disertai penegakan hukum apabila ditemukan pelanggaran. Di sisi lain, ia menyebut negara juga wajib hadir memberikan pendampingan kepada keluarga korban.

“Penegakan hukum harus berjalan, tetapi perhatian kepada korban dan keluarganya juga tidak boleh diabaikan. Negara harus hadir memberikan perlindungan dan pendampingan,” jelas dia.

Terkait pengawasan, TB Hasanuddin menyatakan bahwa DPR RI, khususnya Komisi I, memiliki peran penting untuk memastikan akuntabilitas operasi di lapangan, termasuk terhadap Satgas Habema.

Satgas Habema sendiri ialah Komando Operasi Gabungan TNI yang dibentuk untuk meningkatkan efektivitas penanganan konflik, keamanan, dan pelayanan kemanusiaan di Papua. Satuan itu berfokus pada pendekatan humanis sekaligus penindakan terukur terhadap kelompok OPM, serta menyinergikan pola operasi TNI-Polri.

“Parlemen akan menjalankan fungsi pengawasan dengan meminta keterangan dari Panglima TNI serta berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait, seperti Kemenko Polhukam dan Komnas HAM, guna memastikan proses berjalan transparan dan adil,” papar dia.

TB Hasanuddin berharap penanganan kasus ini dapat dilakukan secara profesional, terbuka, dan berkeadilan. “Sehingga tidak memperkeruh situasi keamanan di Papua serta tetap menjaga kepercayaan publik terhadap institusi negara,” tandasnya.

x|close