Ntvnews.id, Jakarta - Seorang siswi sekolah dasar berinisial KA nekat loncat dari lantai tiga Pasar Desa Adat Serangan, memicu perhatian publik terkait dugaan pengaruh game horor-psikologis yang dikonsumsinya.
Peristiwa yang terjadi di Denpasar itu menimbulkan kekhawatiran tentang dampak konten digital terhadap perilaku anak, terutama yang belum sepenuhnya mampu memahami konsekuensi dari tindakan berisiko.
Psikolog Wangsa Ayu Vidya Loka menjelaskan bahwa tindakan ekstrim pada anak tidak selalu dilatarbelakangi keinginan untuk mengakhiri hidup.
View this post on Instagram
Menurutnya, hal tersebut bisa muncul dari dorongan sesaat, rasa ingin mencoba, mencari perhatian, atau meniru sesuatu yang dilihat tanpa memahami maknanya secara utuh.
“Dalam situasi tertentu, anak bisa melakukan tindakan ekstrim bukan karena benar-benar ingin mengakhiri hidup, tetapi karena dorongan sesaat, keinginan mencoba, mencari perhatian, atau mengikuti sesuatu yang dilihat tanpa memahami sepenuhnya makna dan akibatnya,” ujar Vidya, Rabu 22 April dilansir akun Instagram @infodenpasarterkini.
Baca Juga: Viral Siswi SD Jatuh dari Lantai 3 Pasar Serangan
Meski demikian, ia menegaskan bahwa game seperti Omori tidak bisa serta-merta dianggap sebagai penyebab utama. Pengaruhnya, menurut dia, lebih bersifat sebagai pemicu atau penguat, bukan faktor utama yang mendorong tindakan tersebut.
Kasus ini kembali menjadi pengingat bagi orang tua dan lingkungan sekitar untuk lebih memperhatikan aktivitas serta konsumsi konten digital anak, sekaligus memberikan pendampingan yang tepat dalam memahami informasi yang mereka terima.
Viral Siswi SD Jatuh dari Lantai 3 Pasar Serangan, Alami Luka Serius (Istimewa)