Ntvnews.id, Moskow - Ukraina melancarkan serangan besar-besaran menggunakan pesawat nirawak atau drone ke wilayah Rusia pada Minggu, 17 Mei 2026 waktu setempat.
Pemerintah Rusia mengklaim berhasil mencegat lebih dari 500 drone dalam salah satu serangan udara terbesar sejak perang kedua negara pecah.
Kementerian Pertahanan Rusia menyebut sistem pertahanan udara mereka menembak jatuh sedikitnya 556 drone yang tersebar di 14 wilayah Rusia, termasuk Semenanjung Krimea yang dianeksasi Moskow, serta kawasan Laut Hitam dan Laut Azov. Area sekitar ibu kota Moskow disebut menjadi salah satu titik serangan paling parah.
Dilansir dari France24, Senin, 18 Mei 2026, Gubernur wilayah Moskow Andrey Vorobyov menyampaikan melalui Telegram bahwa serangan saat fajar tersebut menewaskan tiga warga sipil.
Seorang perempuan dilaporkan tewas setelah drone menghantam sebuah rumah pribadi. Sementara dua pria lainnya meninggal dunia dalam serangan terpisah di kawasan pinggiran ibu kota.
Baca Juga: Israel Kesulitan Hadapi Drone Milik Hizbullah di Lebanon Selatan
Di dalam kota Moskow, Wali Kota Sergei Sobyanin mengatakan sistem pertahanan udara berhasil menghancurkan lebih dari 80 drone. Meski demikian, serpihan reruntuhan menyebabkan 12 orang mengalami luka-luka.
Salah satu serangan juga dilaporkan mengenai area dekat kilang minyak dan gas Moskow hingga melukai sejumlah pekerja konstruksi. Namun Sobyanin memastikan operasional kilang minyak tetap berjalan normal.
Serangan balasan Ukraina ini terjadi setelah Presiden Volodymyr Zelensky berjanji membalas serangan Rusia di Kyiv yang menewaskan 24 orang beberapa hari sebelumnya.
Zelensky menilai strategi menyerang fasilitas militer dan energi di wilayah Rusia “sangat bisa dibenarkan” demi melemahkan kemampuan perang Moskow.
Arsip - Foto suasana sekitar Kremlin di Moskow, Rusia, Kamis (10/3/2022). (ANTARA/Xinhua/Bai Xueqi/aa.) (Antara)
Gelombang serangan udara terbaru ini juga menandai berakhirnya gencatan senjata tiga hari yang sempat diberlakukan untuk memperingati Hari Kemenangan Perang Dunia II. Selama masa itu, kedua pihak saling menuduh melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Sementara itu, upaya diplomatik untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun dilaporkan masih menemui jalan buntu. Kyiv menolak tuntutan Moskow terkait penyerahan wilayah Donbas di timur Ukraina.
Sejumlah pengamat menilai mandeknya negosiasi damai turut dipengaruhi perubahan fokus geopolitik Amerika Serikat sebagai sekutu utama Ukraina.
Sejak akhir Februari lalu, perhatian Washington dan dunia internasional banyak tersedot pada eskalasi konflik baru antara AS-Israel dan Iran.
Ilustrasi - Drone atau pesawat nirawak. ANTARA/Xinhua/pri (Antara)