A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Invalid argument supplied for foreach()

Filename: libraries/General.php

Line Number: 87

Backtrace:

File: /www/ntvweb/application/libraries/General.php
Line: 87
Function: _error_handler

File: /www/ntvweb/application/controllers/Read.php
Line: 64
Function: popular

File: /www/ntvweb/index.php
Line: 326
Function: require_once

Hubungan AS-India Retak di Tengah Konflik Global - Ntvnews.id

Hubungan AS-India Retak di Tengah Konflik Global

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 29 Apr 2026, 10:50
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Presiden AS Donald Trump. (ANTARA/Xinhua) Presiden AS Donald Trump. (ANTARA/Xinhua) (Antara)

Ntvnews.id, New Delhi - Pemerintah India pekan lalu melontarkan kecaman terhadap pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut India sebagai lubang neraka dalam unggahan media sosialnya.

Dilansir dari DW, Rabu, 29 April 2026, Trump diketahui membagikan cuplikan acara radio The Savage Nation yang menampilkan komentator konservatif Michael Savage. Dalam tayangan itu, Savage mengatakan: "Seorang bayi di sini langsung menjadi warga negara, lalu mereka membawa seluruh keluarga dari Cina atau India atau lubang neraka lain di planet ini."

Kementerian Luar Negeri India mengecam keras pernyataan tersebut dan menyebutnya sebagai komentar yang tidak pantas.

"Pernyataan tersebut jelas tidak berdasar, tidak pantas, dan tidak berkelas," demikian pernyataan resmi pemerintah India yang dikutip Reuters, Rabu, 29 April 2026.

Pernyataan tersebut jelas tidak mencerminkan realitas hubungan India-AS, yang telah lama didasarkan pada saling menghormati dan kepentingan bersama.

Baca Juga: Raja Charles III Tiba di AS, Bakal Bertemu Trump dan Berpidato di Kongres

Pernyataan kontroversial itu muncul di tengah meningkatnya tekanan ekonomi dan ketegangan diplomatik yang mulai memengaruhi pandangan publik India terhadap Washington.

Hubungan India dan AS selama ini menjadi bagian penting strategi global kedua negara, terutama dalam bidang ekonomi, keamanan, dan teknologi. AS tercatat sebagai mitra dagang terbesar India sekaligus tujuan utama diaspora India di luar negeri.

Selain itu, New Delhi dipandang memainkan peran strategis dalam kebijakan Indo-Pasifik Washington untuk menyeimbangkan pengaruh Cina yang terus meningkat.

Meski hubungan resmi kedua negara diperkirakan tidak berubah drastis, pandangan masyarakat India terhadap AS kini disebut mulai bergeser dari yang sebelumnya penuh aspirasi menjadi lebih transaksional.

Pada awal 2025, India sebenarnya menyambut optimistis masa jabatan kedua Trump. Namun beberapa bulan kemudian, hubungan kedua negara memanas setelah Trump mengklaim dirinya menjadi mediator gencatan senjata antara India dan Pakistan pasca-serangan di Pahalgam, Kashmir.

Pakistan mendukung klaim tersebut, tetapi India langsung membantah dan menegaskan pembicaraan gencatan senjata dilakukan secara bilateral tanpa campur tangan pihak ketiga.

Ketegangan semakin meningkat ketika AS pada Juli 2025 mengumumkan tarif impor sebesar 50 persen terhadap India, salah satu tarif tertinggi di dunia. Kebijakan itu disebut berkaitan dengan keputusan India tetap membeli minyak dari Rusia.

Dalam laporan lembaga think tank Delhi Policy Group pada Agustus 2025, mantan diplomat India Hemant Krishan Singh menyebut hubungan AS-India sedang berada di “titik belok”.

Arsip - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengadakan konferensi pers di Ruang Briefing Pers James S. Brady di Gedung Putih pada 6 April 2026, di Washington DC. (ANTARA/Celal G&uuml;ne?/Aadolu/pri.) (ANTARA/Celal G&uuml;ne?/Aadolu/pri.) <b>(Antara)</b> Arsip - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengadakan konferensi pers di Ruang Briefing Pers James S. Brady di Gedung Putih pada 6 April 2026, di Washington DC. (ANTARA/Celal Güne?/Aadolu/pri.) (ANTARA/Celal Güne?/Aadolu/pri.) (Antara)

"Menjadikan India sebagai sasaran atas pembelian minyak Rusia sambil memberi kelonggaran kepada pembeli lain (dan yang lebih besar) sulit dianggap sebagai hal lain selain tindakan bermusuhan," tulis Singh.

"Terjadi kemunduran dalam kepercayaan timbal balik, rasa percaya terguncang, ketidakpastian muncul, dan dukungan publik di India telah menurun," tambahnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri AS Christopher Landau dalam forum keamanan Raisina Dialogue di New Delhi bulan lalu menyatakan bahwa Washington tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama terhadap India seperti yang pernah dilakukan terhadap China.

"India harus memahami bahwa kami tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dengan India seperti yang kami lakukan dengan Cina."

Mantan Duta Besar India untuk AS, Navtej Sarna, menilai pernyataan tersebut memperlihatkan bagaimana pemerintahan AS kini memandang India.

"Itu merupakan puncak dari apa yang terjadi selama setahun terakhir. Fakta bahwa komentar ini disampaikan dalam forum strategis menunjukkan bagaimana pemerintahan AS memandang India," katanya kepada DW.

Menurut Sarna, sejumlah pejabat di New Delhi merasa kecewa, terlebih dengan menghangatnya hubungan AS dan Pakistan.

"Kehangatan terhadap Pakistan juga menambah rasa tidak percaya di India," tambahnya.

Di tengah ketegangan tersebut, masyarakat India juga mulai merasakan dampak langsung kebijakan AS, mulai dari pengetatan visa H-1B yang banyak digunakan pekerja India hingga dampak ekonomi akibat perang Iran.

Jurnalis independen sekaligus pakar disinformasi Karen Rebelo menilai perang Iran telah memperburuk situasi ekonomi India.

"Rupee mencapai titik terendah, pasar saham mengalami kerugian, rantai pasok terganggu. Kehidupan masyarakat terdampak langsung, dan tidak ada yang kebal, terutama di India yang bergantung pada impor," katanya kepada DW.

Baca Juga: Persik Siap Hadapi Perlawanan Borneo FC

Menurut Rebelo, kelompok sayap kanan India yang sebelumnya cenderung mendukung Trump karena kesamaan ideologi kini mulai frustrasi akibat dampak ekonomi yang mereka alami.

"Keduanya bertumpu pada agama, keduanya konservatif dan pro-perdagangan, keduanya melihat minoritas Muslim sebagai musuh," ujar Rebelo.

Namun ia menilai dukungan tersebut mulai berubah.

"Bahkan ada rasa iri. Mereka ingin India menjadi pihak yang menentukan, memiliki kekuatan untuk mengatur arah," katanya.

Sementara itu, media dan influencer India yang sebelumnya dikenal dekat dengan narasi pemerintah juga mulai mengkritik Trump secara terbuka.

YouTuber populer seperti Nitesh Rajput, Shams Sharma, Abhijit Chavda, serta kanal Abhi and Niyu disebut mulai menjauh dari narasi “teman baik” terkait AS.

Beberapa konten bahkan mempertanyakan kondisi mental Trump.

"Sentimen anti-AS jelas berada di titik tertinggi dalam beberapa waktu terakhir," kata salah satu pendiri Narrative Research Lab, Sundeep Narwani.

Menurutnya, pembentukan opini publik kini banyak dipengaruhi YouTuber besar baik yang pro-pemerintah maupun yang kritis terhadap pemerintah.

"Pekerjaan utama dalam pembentukan narasi kini dilakukan oleh YouTuber berpengaruh, baik yang pro-pemerintah maupun yang kritis," ujarnya.

Narwani menilai media televisi arus utama India kini juga mulai meninggalkan sikap pro-Trump.

"Saluran TV sebelumnya lebih pro-Amerika, tetapi sekarang terlihat jelas adanya keseimbangan dalam pemberitaan."

"Saluran TV kini menampilkan korban dan kehancuran (dalam perang Iran) di kedua sisi secara setara. Koreksi dari simpati yang sebelumnya timpang adalah fenomena baru," katanya kepada DW.

Meski begitu, para analis menilai sentimen publik tersebut belum akan menggagalkan hubungan strategis India-AS yang masih ditopang kepentingan ekonomi dan geopolitik yang kuat.

Namun perubahan persepsi masyarakat India terhadap AS kini dinilai semakin nyata dan sulit diabaikan.

x|close