Ntvnews.id, Jakarta - Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, menegaskan bahwa kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) memiliki ketahanan tinggi terhadap gangguan elektromagnetik, sehingga kecil kemungkinan mengalami mati mendadak saat melintasi jalur kereta api.
“Secara teknis, EV memiliki potensi yang sangat rendah untuk mati mesin secara mendadak saat melintasi rel kereta api, karena medan elektromagnetik yang dihasilkan rel terlalu lemah untuk memengaruhi sistem kelistrikan kendaraan, baik EV maupun mobil berbahan bakar konvensional (ICE),” ujarnya dihubungi dari Jakarta, Rabu.
Ia menjelaskan bahwa mobil listrik modern telah dibekali sistem perlindungan terhadap interferensi elektromagnetik dan wajib melewati berbagai pengujian kompatibilitas sebelum dipasarkan. Pengujian tersebut mengacu pada standar internasional seperti ISO 11451, ISO 11452, dan ISO 7637, serta regulasi CISPR dan UNECE R10 yang mengatur emisi radiasi dan ketahanan sistem kendaraan terhadap gangguan listrik.
Menurutnya, jika medan magnet dari rel kereta benar-benar dapat mematikan kendaraan listrik, hal itu seharusnya sudah terdeteksi dalam proses sertifikasi.
Baca Juga: Minta Izin Taksi Green SM Dicabut, DPR: Banyak Aduan Masyarakat
“Ini adalah regulasi wajib yang harus dipenuhi sebelum kendaraan boleh dipasarkan di banyak negara. Artinya, setiap EV yang dipasarkan secara legal wajib melewati serangkaian pengujian ini.” kata Yannes.
Sebaliknya, ia menilai penyebab kendaraan listrik mogok di rel lebih mungkin berasal dari faktor internal. Beberapa di antaranya adalah melemahnya baterai 12 volt, gangguan sensor akibat getaran, hingga aktifnya sistem keamanan otomatis.
“Ketika sistem mendeteksi anomali, fitur keamanan steering lock atau immobilizer bisa aktif secara otomatis dan mengunci seluruh sistem kendaraan.” imbuhnya.
Selain itu, gangguan pada sistem manajemen baterai (BMS) juga dapat menyebabkan kesalahan pembacaan arus atau kapasitas baterai.
Baca Juga: Sopir Taksi Green SM Diperiksa Polisi Usai Diduga Picu Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL
“Gangguan komunikasi BMS yang berpotensi menyebabkan kesalahan dalam pembacaan arus listrik, estimasi SOC (State of Charge) yang salah yang berujung misalnya pada pengambilan keputusan sistem seperti padam mendadak.” jelas Yannes.
Ia menambahkan, potensi lain seperti kegagalan inverter atau konverter DC-DC juga dapat menyebabkan hilangnya daya secara tiba-tiba. Oleh karena itu, Yannes menekankan bahwa analisis insiden kendaraan listrik di jalur rel seharusnya difokuskan pada aspek teknis internal, bukan pada asumsi pengaruh medan elektromagnetik dari rel kereta.
(Sumber: Antara)
Kereta api (KA) jarak jauh melintas di samping taksi listrik Green SM yang rusak pascakecelakaan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengerahkan tim investigasi untuk mengumpulkan fakta terkait kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam. ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/nz (Antara)