Ntvnews.id, Minneapolis - Insiden penembakan mematikan yang melibatkan agen Immigration and Customs Enforcement (ICE) di Minneapolis terus menuai kontroversi. Seorang perempuan sipil berusia 37 tahun tewas ditembak dalam sebuah operasi penegakan hukum federal pada Rabu (waktu setempat), sementara rincian lengkap kejadian masih dalam proses penyelidikan.
Meski korban diketahui tidak bersenjata, pemerintahan Presiden Donald Trump langsung menuding perempuan tersebut sebagai pelaku “terorisme domestik”. Tuduhan ini muncul di tengah beredarnya rekaman video insiden yang justru memunculkan kesimpulan berbeda dari banyak pihak yang telah menyaksikannya.
Wali Kota Minneapolis, Jacob Frey, secara terbuka membantah klaim pemerintah federal tersebut. Ia menyebut tudingan terhadap korban tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
“Setelah saya sendiri melihat videonya, saya ingin mengatakan langsung kepada semua orang bahwa itu omong kosong. Ini adalah agen ICE yang secara sembrono menyalahgunakan kekuasaan hingga menyebabkan seseorang meninggal dunia,” ujar Frey dilansir MS Now, Kamis, 8 Januari 2026.
Baca Juga: Trump Sebut AS Rebut 50 Juta Barel Minyak Venezuela
Alih-alih meredam situasi atau menjanjikan penyelidikan independen yang menyeluruh, Presiden Trump justru merespons dengan pernyataan bernada politis. Melalui unggahan di platform media sosial miliknya, Trump mengaku telah menonton video insiden dan menuduh salah satu perempuan dalam rekaman tersebut sebagai “agitator profesional”.
Dalam pernyataannya, Trump menyebut perempuan yang mengemudikan mobil bersikap tidak tertib, menghalangi petugas, dan kemudian secara sengaja menabrak agen ICE, sehingga penembakan disebut sebagai tindakan bela diri.
“Berdasarkan cuplikan video tersebut, agen itu tampaknya menembak untuk membela diri,” tulis Trump, seraya menyebut sang agen kini sedang menjalani perawatan di rumah sakit.
Trump juga menuding kelompok kiri radikal sebagai penyebab meningkatnya insiden kekerasan terhadap aparat penegak hukum. Menurutnya, agen ICE hanya menjalankan tugas untuk menjaga keamanan Amerika Serikat.
Namun, klaim bela diri tersebut dipertanyakan. Video yang dirujuk Trump hanya berdurasi 13 detik dan disiarkan oleh afiliasi lokal ABC. Sejumlah rekaman lain yang beredar justru membuat narasi pembelaan diri menjadi jauh lebih kompleks dan diperdebatkan.
Pernyataan Trump segera menuai kritik tajam. Penulis David Noll menilai, sikap presiden tersebut lebih merupakan sinyal politik kepada para pendukungnya dibanding upaya mencari kebenaran.
Baca Juga: Usai Amorim Dipecat, Manchester United Ditahan Imbang Burnley 2-2
“Presiden sedang memberi tahu para pendukungnya, baik di dalam maupun di luar pemerintahan, tentang garis partai dalam menyikapi pembunuhan mengerikan ini. Bahwa klaim itu jelas tidak benar hampir menjadi hal sekunder. Mengulang kebohongan itu justru berubah menjadi ujian loyalitas,” tulis Noll.
Kritik serupa sebelumnya juga pernah disampaikan kolumnis The New York Times, David French, yang setahun lalu menilai Trump “selalu berada pada titik terburuknya saat menghadapi krisis” dan tidak siap menghadapi momen genting dan berbahaya.
Sementara itu, Gubernur Minnesota dari Partai Demokrat, Tim Walz, menegaskan bahwa negara bagian akan memastikan proses hukum berjalan transparan dan akuntabel.
“Pemerintah negara bagian tidak akan berhenti sampai keadilan dan pertanggungjawaban ditegakkan. Biro Penyelidikan Kriminal Negara Bagian sedang menangani penyelidikan ini,” kata Walz.
Kasus ini menambah daftar panjang ketegangan antara pemerintah federal, aparat penegak hukum imigrasi, dan pemerintah daerah, sekaligus memicu perdebatan luas soal penggunaan kekuatan mematikan dalam operasi penegakan hukum di Amerika Serikat.
Agen Imigrasi AS Tembak Warga (King 5 News)