BPS Ungkap Penyebab Kontraksi Sektor Pertambangan pada Triwulan I 2026

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Mei 2026, 20:42
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Sejumlah truk pengangkut batu bara parkir di area pertambangan yang berada di kawasan Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur, Rabu (22/4/2026). ANTARA FOTO/Angga Palguna/sgd Sejumlah truk pengangkut batu bara parkir di area pertambangan yang berada di kawasan Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur, Rabu (22/4/2026). ANTARA FOTO/Angga Palguna/sgd (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Kepala Badan Pusat Statistik, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa sektor pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi sebesar 2,14 persen pada triwulan I 2026.

Ia menyebutkan bahwa penurunan ini dipicu oleh melemahnya produksi sejumlah komoditas utama, seperti bijih logam, minyak dan gas (migas), serta batu bara.

“Ini pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi tadi kan minus 2,14 persen, karena salah satunya adalah pertambangan bijih logam terkontraksi sebesar 12,22 persen, kemudian juga ada kontraksi pertambangan minyak gas dan juga batubara. Jadi batu bara juga mengalami penurunan produksi,” kata Amalia dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa, 5 Mei 2026.

Jika dilihat dari tren, sektor ini memang sudah menunjukkan pelemahan dalam beberapa periode terakhir. Pada triwulan IV 2025, kontraksi tercatat sebesar 1,31 persen, sementara pada triwulan I 2025 sebesar 1,23 persen.

Baca Juga: BPS: Pertumbuhan Penduduk Melambat, Struktur Demografi Indonesia Didominasi Usia Muda

Secara triwulanan (qtq), kontraksi juga terjadi di berbagai lapangan usaha. Sektor pertambangan dan penggalian mencatat penurunan paling dalam sebesar 8,20 persen. Selain itu, jasa pendidikan mengalami kontraksi 6,89 persen, serta sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial turun 5,50 persen.

BPS juga melaporkan bahwa perekonomian Indonesia yang diukur melalui Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku (ADHB) pada triwulan I 2026 mencapai Rp6.187,2 triliun, sementara atas dasar harga konstan (ADHK) sebesar Rp3.447,7 triliun.

Secara tahunan (year-on-year), ekonomi Indonesia masih mencatat pertumbuhan sebesar 5,61 persen pada periode tersebut.

Dari sisi produksi, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 13,14 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah menjadi komponen dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 21,81 persen.

Baca Juga: IKG Turun ke 0,402, BPS Sebut Ketimpangan Gender Membaik

Namun, secara triwulanan, ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen dibandingkan triwulan IV 2025.

Dilihat dari sisi produksi, sektor pertambangan dan penggalian kembali menjadi yang paling tertekan dengan kontraksi 8,20 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah mencatat penurunan terdalam sebesar 30,13 persen.

(Sumber: Antara)

x|close