A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Invalid argument supplied for foreach()

Filename: libraries/General.php

Line Number: 87

Backtrace:

File: /www/ntvweb/application/libraries/General.php
Line: 87
Function: _error_handler

File: /www/ntvweb/application/controllers/Read.php
Line: 64
Function: popular

File: /www/ntvweb/index.php
Line: 326
Function: require_once

Pakar Geologi: Gempa Magnitudo 2,4 di Ulubelu Umum Terjadi di Kawasan Tektonik Aktif - Ntvnews.id

Pakar Geologi: Gempa Magnitudo 2,4 di Ulubelu Umum Terjadi di Kawasan Tektonik Aktif

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 19 Mei 2026, 19:36
thumbnail-author
Beno Junianto
Penulis & Editor
Bagikan
Ilustrasi gempa bumi Ilustrasi gempa bumi (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Pada 2 Mei lalu sekitar pukul 04.36 WIB, gempa bumi berkekuatan magnitudo 2,4 mengguncang wilayah Ulubelu, Kabupaten Tanggamus. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di wilayah Ulubelu dengan karakteristik gempa dangkal. Kondisi tersebut umum terjadi di kawasan dengan aktivitas tektonik yang cukup tinggi.

Secara geografis, Indonesia memang berada di jalur Ring of Fire, yakni kawasan dengan aktivitas kegempaan tertinggi di dunia. Khusus di wilayah Sumatera bagian selatan, aktivitas gempa dipengaruhi oleh interaksi tiga sistem tektonik utama, yaitu Zona Subduksi Sunda, Sesar Sumatera atau Segmen Semangko, serta struktur geologi di sekitar Selat Sunda.

Guru besar bidang Rekayasa Geofisika Dekat Permukaan Universitas Lampung Prof. Dr. Ir. Ahmad Zaenudin, M.T., CRP. menjelaskan bahwa secara alami kawasan Sumatera memang aktif secara tektonik, termasuk akibat reaktivasi sesar pasca Gempa Besar Liwa.

“Dalam kondisi seperti ini, gempa-gempa kecil justru dapat membantu melepaskan tekanan yang terakumulasi. Karena itu, perlu ada sosialisasi yang baik kepada masyarakat terkait kondisi geologi wilayah tersebut,” ujar Ahmad Zaenudin secara daring pada Selasa (12/5/2026).

Senada dengan hal tersebut, Guru Besar Geologi Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Wahyu Wilopo mengatakan bahwa kondisi geologis tersebut membuat aktivitas gempa di wilayah ini perlu dianalisis secara detail dan menyeluruh.

"Secara geologis, wilayah Ulubelu memang berada di kawasan aktif yang dilalui jalur Patahan Sumatera atau Sesar Semangko. Kondisi ini membuat wilayah tersebut secara alami rentan terhadap terjadinya gempa tektonik," kata Wahyu saat diwawancarai via Zoom, Rabu (13/5/2026).

Di sisi lain, Kepala Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada tersebut juga menjelaskan bahwa aktivitas pengeboran panas bumi khususnya kegiatan injeksi fluida dan hydrofracturing, secara teori memang dapat menimbulkan getaran atau gempa bumi. Namun demikian, gempa bumi tersebut biasanya mempunyai kekuatan rendah, di bawah magnitudo 3 skala Richter, dan sering kali tidak dirasakan masyarakat pada kondisi normal.

“Kalau gempa induksi biasanya magnitudonya kecil, dangkal, dan muncul berkelompok atau mengumpul di lokasi pemboran dan umumnya terjadi pada saat kegiatan pemboran. Sedangkan gempa tektonik bisa lebih besar dan lebih dalam,” ucap Wahyu.

Ia menyampaikan hal tersebut untuk merespons munculnya anggapan di sebagian masyarakat yang mengaitkan gempa di Ulubelu dengan aktivitas panas bumi di wilayah sekitar. Menurut Wahyu, pengembangan panas bumi di Indonesia pada prinsipnya telah diatur melalui kewajiban kajian lingkungan, pemantauan seismik, serta penerapan standar mitigasi risiko. Pemantauan aktivitas gempa juga dilakukan secara real-time menggunakan seismometer.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat agar tidak langsung mengaitkan setiap kejadian gempa dengan keberadaan proyek panas bumi tanpa adanya bukti ilmiah yang valid. Oleh karena itu, sebaiknya dilakukan penelitian secara detail.

Panas Bumi Dapat Berdampingan dengan Masyarakat

Alumnus Kyushu University itu meyakini pengembangan energi panas bumi dapat berjalan berdampingan dengan masyarakat. Menurutnya, pemanfaatan panas bumi memiliki dampak lingkungan yang lebih kecil dibandingkan dengan pemanfaatan energi minyak atau gas bumi dan batu bara yang lebih banyak menghasilkan gas rumah kaca.

"Sistem panas bumi modern dirancang dengan konsep closed system, di mana limbah cair diinjeksikan kembali ke dalam bumi (reservoar) sehingga meminimalkan pencemaran lingkungan. Selain itu, area bukaan lahan untuk proyek panas bumi juga jauh lebih terbatas dibandingkan dengan sektor tambang lainnya. Kalau semua prosedur dan standar dijalankan dengan benar, panas bumi itu aman dan bisa hidup berdampingan dengan masyarakat,” ujar Wahyu.

Selain memiliki dampak lingkungan yang rendah, Wahyu menilai panas bumi juga menjadi salah satu solusi energi alternatif paling strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, yang harga jualnya sangat fluktuatif seperti saat ini. Ia juga melihat pengembangan proyek panas bumi mampu memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat. Hal ini meliputi pembangunan infrastruktur, pembukaan akses jalan, hingga peningkatan aktivitas ekonomi lokal melalui berbagai program, salah satunya adalah CSR.

"Contohnya panas bumi di kawasan Kamojang, Jawa Barat yang telah lama berkembang dan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar tanpa menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan," ujar Wahyu.

Baca Juga: Gempa M 7,4 Guncang Jepang, Picu Peringatan Tsunami

x|close