IHSG Ditutup Menguat 1,10 Persen, Saham Energi dan Barang Baku Jadi Penopang

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 22 Mei 2026, 18:19
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Pengunjung melintas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jakarta, Jumat (10/4/2026). Pada sesi pembukaan perdagangan Jumat (10/4) pagi, IHSG naik 44,921 poin (0,61 persen) ke level 7.352,510 pada hari pertama penerapan kebijakan Work From Home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym/pri. Pengunjung melintas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jakarta, Jumat (10/4/2026). Pada sesi pembukaan perdagangan Jumat (10/4) pagi, IHSG naik 44,921 poin (0,61 persen) ke level 7.352,510 pada hari pertama penerapan kebijakan Work From Home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym/pri. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil ditutup di zona hijau pada perdagangan Jumat sore, didorong penguatan signifikan saham sektor energi dan barang baku (basic materials).

IHSG ditutup naik 67,11 poin atau 1,10 persen ke level 6.162,05. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan turut menguat 4,04 poin atau 0,66 persen menjadi 620,44.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengatakan penguatan IHSG terjadi seiring reli saham sektor energi dan barang baku yang menjadi motor utama perdagangan hari ini.

"IHSG ditutup menguat seiring rally saham energi dan basic materials," ujar Ratna dalam kajiannya di Jakarta, Jumat, 22 Mei 2026.

Baca Juga: Terpopuler: 9 WNI dan Semua Delegasi Global Sumud Flotilla Dibebaskan Israel, Purbaya Yakin IHSG Bakal Bangkit

Pada perdagangan hari ini, IHSG sempat bergerak di zona merah dan menyentuh level terendah 5.966,86. Namun, indeks perlahan berbalik menguat hingga bertahan di zona hijau sampai penutupan perdagangan sesi kedua.

Penguatan terbesar datang dari sektor energi dan barang baku yang masing-masing melonjak 6,85 persen dan 4,84 persen. Kenaikan tersebut dipicu oleh beredarnya rumor bahwa pemerintah Indonesia akan menunda implementasi penuh kebijakan ekspor batu bara dan komoditas strategis lainnya yang dikendalikan negara hingga 1 Januari 2027.

"Penundaan ini dinilai memberikan periode transisi yang lebih panjang bagi eksportir dan pembeli internasional untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan kebijakan tersebut," ujar Ratna.

Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, sebanyak 10 sektor ditutup menguat. Sektor barang baku memimpin penguatan dengan kenaikan 6,74 persen, diikuti sektor energi 4,82 persen dan sektor barang konsumen nonprimer 2,43 persen. Sementara itu, sektor keuangan menjadi satu-satunya sektor yang terkoreksi tipis sebesar 0,07 persen.

Sejumlah saham mencatat penguatan signifikan, di antaranya DFAM, CTBN, PBSA, TALF, dan MDKA. Di sisi lain, saham yang mengalami penurunan terdalam meliputi PGLI, ASPR, BOBA, LCKM, dan APIC.

Baca Juga: IHSG Jumat Dibuka Melemah, Sempat Terperosok ke Level 5.900

Aktivitas perdagangan saham juga terpantau ramai dengan frekuensi transaksi mencapai 1,97 juta kali. Total volume perdagangan tercatat sebanyak 40,28 miliar lembar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp21,56 triliun. Sebanyak 449 saham menguat, 251 saham melemah, dan 118 saham stagnan.

Penguatan pasar saham domestik juga sejalan dengan mayoritas bursa saham Asia yang ditutup di zona hijau. Indeks Nikkei melonjak 2,74 persen, Shanghai Composite naik 0,87 persen, Hang Seng menguat 0,86 persen, dan Strait Times bertambah 0,44 persen.

(Sumber: Antara)

x|close