A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Invalid argument supplied for foreach()

Filename: libraries/General.php

Line Number: 87

Backtrace:

File: /www/ntvweb/application/libraries/General.php
Line: 87
Function: _error_handler

File: /www/ntvweb/application/controllers/Read.php
Line: 64
Function: popular

File: /www/ntvweb/index.php
Line: 326
Function: require_once

BRIN dan PalmCo Kembangkan Bio-CBG dari Limbah Sawit untuk Pengganti LPG - Ntvnews.id

BRIN dan PalmCo Kembangkan Bio-CBG dari Limbah Sawit untuk Pengganti LPG

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 27 Mei 2026, 23:00
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K Santosa. ANTARA/HO-PTPN IV Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K Santosa. ANTARA/HO-PTPN IV (Antara)

Ntvnews.id

, Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Sub Holding PTPN III (Persero), PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo, mengembangkan Bio-Compressed Biomethane Gas (Bio-CBG) berbasis limbah sawit sebagai alternatif pengganti LPG sekaligus mendukung penguatan energi terbarukan nasional.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K Santosa mengatakan limbah sawit yang selama ini dianggap sebagai persoalan lingkungan kini mulai diarahkan menjadi sumber energi baru yang memiliki nilai ekonomi.

"Selama ini limbah sawit identik dengan persoalan lingkungan. Sekarang pendekatannya berubah. Limbah justru bisa menjadi sumber energi baru yang bernilai ekonomi sekaligus mendukung ketahanan energi nasional," kata Jatmiko dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, 26 Mei 2026.

Menurut dia, PalmCo bersama BRIN saat ini tengah mematangkan kajian pengembangan Bio-CBG, yakni gas biomethana dari limbah sawit yang kualitasnya setara dengan compressed natural gas (CNG). Energi tersebut diproyeksikan mampu menjadi substitusi LPG impor sekaligus memperkuat bauran energi baru terbarukan di Indonesia.

Jatmiko menjelaskan proyek tersebut memanfaatkan limbah cair pabrik kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME) serta biomassa tandan kosong untuk menghasilkan biomethana berkadar tinggi. Gas kemudian dimurnikan hingga memiliki spesifikasi menyerupai gas bumi.

"Bio-CBG ini pada dasarnya merupakan ‘kembaran hijau’ dari CNG. Fungsinya sama dan bisa digunakan sebagai alternatif pengganti LPG maupun bahan bakar fosil lainnya," terang Jatmiko.

Saat ini PalmCo tengah menyusun peta jalan pengembangan energi hijau berbasis sawit. Salah satu proyek yang sedang berjalan ialah pembangunan fasilitas Bio-CBG di Pabrik Kelapa Sawit Tinjowan, Sumatera Utara. Perusahaan juga menargetkan pembangunan 17 instalasi Bio-CBG hingga 2029, dengan delapan proyek baru dijadwalkan memulai tahap groundbreaking tahun ini.

"Ini kami lakukan bertahap. Harapannya, fasilitas pengolahan limbah sawit tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga gas siap pakai yang bisa dimanfaatkan sektor industri maupun transportasi," ujarnya.

Di sisi lain, BRIN menilai limbah sawit memiliki potensi besar untuk mendukung agenda transisi energi nasional apabila dimanfaatkan secara optimal. Kepala Pusat Riset Teknologi Proses BRIN Hens Putra menyebut pengembangan energi dari limbah sawit bukan hanya berkaitan dengan penyediaan energi, tetapi juga peningkatan efisiensi dan keberlanjutan industri.

"Energi menjadi prioritas nasional. Kajian ini bukan hanya menghitung potensi energi, tetapi juga meningkatkan efisiensi agar pengolahan limbah sawit lebih optimal dan berkelanjutan," ungkap Hens.

Baca Juga: Pemerintah Kaji CNG sebagai Alternatif LPG 3 Kg untuk Kurangi Ketergantungan Impor

BRIN juga melihat peluang pengembangan kawasan inovasi berbasis industri sawit atau technopark yang mengintegrasikan riset, pengolahan limbah, dan energi terbarukan.

"Kami berharap model ini nantinya bisa direplikasi secara nasional dan menjadi contoh pengembangan energi berbasis sawit di Indonesia," ujarnya.

Sementara itu, Peneliti Energi BRIN Samuel Pati Senda menyebut hasil audit lapangan di fasilitas pembangkit biogas Sei Pagar, Riau, menunjukkan peningkatan efisiensi produksi gas metana. Produksi metana meningkat dari rata-rata 36.706 normal meter kubik per bulan pada 2025 menjadi 46.683 normal meter kubik per bulan pada pengujian 2026.

"Data itu menunjukkan teknologi pengolahan limbah sawit untuk energi sudah cukup matang dan layak direplikasi dalam skala lebih besar," kata Samuel.

Ia menambahkan pemanfaatan limbah sawit menjadi Bio-CBG merupakan bagian dari penerapan ekonomi sirkular di sektor perkebunan.

Baca Juga: Kementerian ESDM Pastikan Harga LPG 3 Kg Tidak Naik hingga Akhir 2026

"Limbah yang sebelumnya menjadi sumber emisi kini bisa diubah menjadi energi bersih. Jadi ada manfaat lingkungan sekaligus manfaat ekonomi," ujarnya.

Pengembangan biomethana berbasis sawit dinilai dapat membantu pemerintah mencapai target bauran energi baru terbarukan sebesar 23 persen. Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia juga menegaskan pentingnya pemanfaatan gas domestik untuk mengurangi ketergantungan impor LPG.

"Gasnya ada di kita, industrinya juga ada di dalam negeri. Karena itu pengembangannya perlu terus diperluas," ujar Bahlil.

(Sumber: Antara)

x|close