Menhut: Indonesia Bergerak Menuju Skema Pembiayaan Konservasi Berbasis Alam yang Berkelanjutan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 26 Jun 2026, 15:10
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni dalam Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI) Roundtable Meeting yang diselenggarakan di London dalam rangkaian London Climate Action Week 2026, di London, Inggris, Kamis, 25 Juni 2026. Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni dalam Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI) Roundtable Meeting yang diselenggarakan di London dalam rangkaian London Climate Action Week 2026, di London, Inggris, Kamis, 25 Juni 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Pemerintah Indonesia terus mengembangkan model baru pembiayaan konservasi yang berorientasi pada keberlanjutan. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan pendekatan tersebut bertujuan mengurangi ketergantungan pada anggaran publik dengan membuka peluang investasi yang kredibel dan tetap menjaga kepentingan lingkungan serta masyarakat.

Dalam keterangannya di Jakarta pada Jumat, 26 Juni 2026, Raja Juli menjelaskan bahwa pemerintah sedang membangun tata kelola konservasi yang lebih mandiri melalui skema pembiayaan berbasis alam (nature finance).

''Indonesia tidak hanya sedang menyusun strategi pembiayaan. Kami sedang membangun paradigma baru tata kelola konservasi, di mana taman nasional memiliki kemandirian finansial, masyarakat menjadi mitra utama, sektor swasta memiliki peran yang bermakna, dan negara menyediakan kerangka regulasi yang kuat untuk memastikan seluruh mekanisme berjalan secara akuntabel dan berkelanjutan,” ujar Raja Juli Antoni.

Langkah tersebut merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto yang telah membentuk Satuan Tugas Pembiayaan Inovatif untuk Pengelolaan Taman Nasional dan Konservasi Spesies Ikonik. Satgas itu menargetkan sedikitnya 13 taman nasional beserta dua kawasan konservasi spesies ikonik mampu mencapai kemandirian pembiayaan pada 2030.

Baca Juga: Indonesia dan Inggris Perkuat Kerja Sama Konservasi dan Pembiayaan Kawasan Lindung

Untuk merealisasikan target tersebut, pemerintah menjalankan dua strategi utama, yakni memperkuat regulasi dan kelembagaan sekaligus mendorong investasi melalui berbagai instrumen keuangan inovatif dan kemitraan dengan berbagai pihak.

Selain itu, Indonesia juga memperkenalkan konsep Natural Ecosystems as a New Asset Class, yang menempatkan ekosistem alam sebagai aset strategis dengan nilai ekonomi berkelanjutan tanpa mengabaikan fungsi ekologisnya. Beragam instrumen yang tengah dipersiapkan mencakup kredit karbon, kredit biodiversitas, obligasi konservasi spesies (species bonds), ekowisata, bioprospeksi, pemanfaatan hasil hutan bukan kayu, hingga berbagai bentuk kerja sama pemerintah dan swasta.

Menurut Raja Juli, pendekatan tersebut diharapkan dapat membuka sumber investasi baru yang tidak hanya mendukung upaya pelestarian alam, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi.

Sebagai proyek percontohan, pemerintah memperkenalkan Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI) di Aceh.

Baca Juga: Menhut Raja Juli Antoni Tekankan Konservasi Didahulukan sebelum Pariwisata

Program tersebut dirancang untuk membuktikan bahwa perlindungan satwa liar, pelestarian konektivitas habitat, dan pengembangan ekonomi masyarakat dapat berjalan secara bersamaan dalam satu kawasan konservasi.

Pada kesempatan itu, Raja Juli juga mengajak komunitas investasi internasional, lembaga filantropi, mitra pembangunan, dan berbagai pemangku kepentingan untuk turut mendukung transformasi pembiayaan konservasi di Indonesia.

“Kami menyambut kemitraan dalam bentuk dukungan keahlian, transfer teknologi, dukungan implementasi program, maupun pembiayaan inovatif yang disepakati bersama. Kolaborasi global akan mempercepat upaya kita dalam menjaga keanekaragaman hayati sekaligus menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan,” katanya.

(Sumber: Antara)

x|close