Ntvnews.id, Jakarta - Program Koperasi Desa (Kopdes) atau Koperasi Desa Mandiri Pangan (KDMP) dinilai mengalami indikasi penyimpangan dalam pelaksanaannya di tingkat tapak.
Pengamat ekonomi dan geopolitik, Gema Goeyardi, mencurigai adanya permainan sindikat tengkulak yang sengaja merusak program ini dari dalam agar gagal, sehingga berfungsi layaknya "Kuda Trojan".
Pernyataan menohok tersebut disampaikan Gema Goeyardi saat hadir sebagai narasumber dalam dialog Suara Nusantara di Nusantara TV, Rabu (9/9) malam.
Pria yang akrab disapa Gema Greget ini mengupas tuntas ancaman terhadap rantai pasok serta permainan oligarki pangan yang merugikan para petani lokal.
Gema menjelaskan bahwa paradigma awal pembentukan Kopdes atau KDMP yang digagas pemerintah sebenarnya sangat ideal guna memutus rantai perantara
"Kopdes itu sebenarnya awal mulanya diciptakan supaya petani itu tidak dimakan marginnya 40 persen, datanya itu 40 persen dimakan sama tengkulak. Jadi supaya dia tuh bisa jual di Kopdes, dari Kopdes langsung ke user," ujar Gema
Namun, Gema mencurigai para tengkulak yang telah beroperasi seperti sindikat tidak tinggal diam ketika mata pencarian mereka terancam hilang.
"Nah yang saya curiga karena tengkulak ini kan sudah seperti sindikat, seperti virus, itu kayak kanker itu ya, nampaknya bisa terjadi seperti Kuda Trojan gitu loh. Jadi KDMP ini dibikin sejelek mungkin supaya ini gagal," tegasnya
Akibat dugaan sabotase tersebut, fungsi KDMP di lapangan kini dinilai telah menyimpang jauh dari prinsip dasar yang dicanangkan Presiden. Gema menyoroti bagaimana KDMP justru diselewengkan menjadi toko ritel minimarket di daerah.
"Akhirnya KDMP diselewengkan jadi kayak Alfamart. Habis itu mereka mencoba bermain di daerah... Nah itu sudah menyimpang dari prinsip dari awal Pak Presiden," kritiknya
Gema pun menyayangkan lambatnya intervensi dari pihak istana untuk meredam penyelewengan fungsi tersebut di tingkat lokal.
"Tapi problemnya adalah istana tidak cepat mengintervensi ini sehingga eskalasi para penjahat ini terlalu cepat," ungkap Gema.
Baca juga: BAKOM RI: Bansos Bukan Solusi Kelas Menengah, Martabat Pekerjaan Layak Harus Dipertahankan
Kendati demikian, Gema menegaskan bahwa paradigma dasar Presiden Prabowo Subianto sudah sangat tepat dalam mengembalikan kedaulatan ekonomi sesuai Pasal 33 UUD 1945. Ia menilai Presiden memiliki keberanian besar untuk menghantam praktik korupsi dan oligarki meskipun harus menghadapi berbagai ancaman.
Mengenai kondisi geopolitik, Gema membeberkan bagaimana Indonesia saat ini terus dipojokkan oleh tekanan luar negeri. Namun, ia mengapresiasi keberanian pemerintah dalam menjaga prinsip politik luar negeri bebas aktif.
"Aku kan negara berdaulat, aku bebas aktif. Gua boleh dong dagang sama siapa aja," tuturnya mengibaratkan ketegasan kedaulatan bangsa.
Gema pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk siap berjuang bersama pemerintah dalam menghadapi tantangan ekonomi selama beberapa tahun ke depan.
"Sekarang saya mau tanya pakai hati kalian, kalian rela enggak hidup susah oligarki semua dihantam, semua korupsi dihantam tapi kita diganggu seperti ini, atau kalian mau seakan-akan enak tapi korupsi dan oligarki terus ngeruk harta Indonesia?" cetusnya.
Ia juga mengecam maraknya serangan dan fitnah media sosial yang terus-menerus menyasar kepemimpinan nasional yang baru berjalan singkat.
"Presiden mana baru kerja 2 tahun saja belum, tiap hari dikasih DFK, difitnah dan seterusnya. Siapa pun enggak bisa handle gitu loh," katanya menyuarakan keprihatinan atas dinamika politik
Sebagai bentuk dukungan atas penyelamatan kekayaan negara, Gema menyuarakan sokongannya terhadap pembentukan badan pengelola investasi Danantara guna menyelamatkan royalti sumber daya alam yang selama ini lari ke luar negeri.
"Desa yang punya nikel dapat polusinya aja, royaltinya dikeruk dipindahin ke Singapura," sentilnya blak-blakan
Menutup pandangannya, Gema menegaskan pentingnya persatuan seluruh komponen masyarakat untuk mengawal penegakan kedaulatan ekonomi nasional.
"Pertanyaannya, mau enggak kita fight bersama Pak Presiden menghajar Londo Ireng itu?" pungkas Gema.
Founder Astronacci International Gema Goeyardi dalam program Suara Nusantara