Ntvnews.id, Jakarta - Bank Indonesia (BI) angkat bicara mengenai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang mendekati level Rp18.000 per dolar AS.
Berdasarkan data perdagangan pagi ini Kamis 15 Oktober 2026, rupiah dibuka melemah 45 poin atau 0,25 persen ke level Rp17.948 per dolar AS.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin G. Hutapea, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi global, terutama meningkatnya inflasi AS dan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
"Rilis data inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan dan meningkat dari periode sebelumnya mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga AS yang lebih agresif oleh The Fed," ucap Erwin dalam keterangan tertulis, Kamis 15 Oktober 2026.
Baca juga: Inflasi AS Lebih Tinggi dari Perkiraan, BI Terus Jaga Rupiah Sesuai Fundamental
"Selain itu, ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak tetap tinggi di atas USD105 per barel dan meningkatkan risiko fiskal ke depan," lanjutnya.
Lebih lanjut, Erwin menyebut indeks dolar AS sempat meningkat tajam ke level tertinggi sejak Mei 2025, dan yield US Treasury tenor 2 tahun sempat naik 12 bps ke level 4,90 persen.
Menurutnya, memburuknya sentimen penghindaran risiko atau risk-off mendorong penguatan dolar AS. Kondisi ini juga memicu tekanan arus keluar dana dari aset portofolio di negara-negara pasar berkembang atau emerging markets, di tengah kenaikan imbal hasil obligasi.
Meski demikian, BI menilai pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan dinamika mata uang negara-negara kawasan. Pelemahan rupiah secara quarter-to-date (QTD) atau sejak awal kuartal tercatat terbatas sebesar 0,17 persen.
Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia masih terjaga. BI mencatat posisi cadangan devisa sebesar USD146,3 miliar pada akhir September 2026.
Baca juga: Rupiah Kamis Pagi Dibuka Melemah Nyaris Dekati Rp18 Ribu per Dolar AS
BI Lakukan Intervensi
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia menegaskan akan terus hadir di pasar guna memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan pergerakan rupiah tetap sesuai dengan fundamental ekonomi.
Erwin menjelaskan, BI secara konsisten melakukan intervensi melalui sejumlah instrumen, baik di pasar offshore maupun pasar domestik.
"Intervensi terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder," bebernya.
Selain itu, BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk mendukung stabilitas pasar keuangan.
Bank sentral turut mengelola struktur suku bunga di pasar uang dengan memastikan kecukupan likuiditas tetap terjaga.
"Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif," tandasnya.
Mata uang Rupiah dan Dolar AS/ist