Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani menyampaikan dalam era percepatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mendorong lonjakan kebutuhan komputasi dan investasi digital.
Indonesia menegaskan pertumbuhan teknologi perlu diseimbangkan dengan pemerataan kesejahteraan dan keberlanjutan lingkungan.
Hal ini menjadi inti diskusi dalam Tri Hita Karana G20 Bali Global Blended Finance Alliance Dialogue Sustainable AI: Balancing Compute Growth with Equitable Prosperity, di Indonesia Pavilion, WEF Davos 2026.
“Di Indonesia, AI bukan hanya bagian dari infrastruktur, tetapi juga pendorong pertumbuhan ekonomi di masa depan,” ucap Rosan dalam keterangan tertulisnya, Jumat 23 Januari 2026.
Baca juga: Rosan Roeslani: Kehadiran RI di WEF Davos 2026 Bagian Strategi Diplomasi Ekonomi
Menurut McKinsey Global Institute, penggunaan AI dapat meningkatkan produktivitas global hingga USD13 triliun per tahun pada 2030, sementara penggunaan energi untuk komputasi diproyeksikan meningkat dua kali lipat setiap 3–4 tahun jika tidak diiringi langkah efisiensi.
Rosan menyebut Indonesia menyadari kedua sisi ini: potensi ekonomi digital tinggi sekaligus kebutuhan tata kelola teknologi yang adil dan ramah lingkungan.
“Sebagai bagian dari strategi investasi, kami terus memperbaiki iklim investasi dengan menyederhanakan kebijakan, aturan, dan regulasi. Kami berkomitmen pada kemitraan jangka panjang yang saling menguntungkan, karena kemitraan yang sehat akan menghasilkan kinerja dan nilai yang baik," ungkapnya.
"Tidak hanya itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi prioritas utama. Ini menjadi tanggung jawab Indonesia untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja yang berkualitas,” tambah Rosan.
Data Statista menunjukkan, angka investasi global dalam infrastruktur AI (termasuk data center) diproyeksikan mencapai lebih dari USD500 miliar pada 2027, meningkat dari USD272 miliar pada 2023—lebih dari 80 persen pertumbuhan dalam empat tahun terakhir.
Baca juga: Rosan Roeslani: Investasi Triwulan IV 2025 Tetap Beri Kontribusi Positif bagi APBN
Lonjakan investasi ini membuka peluang besar bagi negara berkembang untuk menarik modal dan teknologi, selama didukung kebijakan yang stabil dan kerangka regulasi yang jelas.
Indonesia menempatkan digital economy sebagai salah satu pilar strategis. Menurut laporan Google–Temasek–Bain e-Conomy SEA Report 2025, nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai USD100 miliar pada 2025, dengan pertumbuhan tahunan rata-rata di atas 20 persen.
Proyeksi Boston Consulting Group (BCG) bahkan menempatkan Indonesia sebagai pasar digital terbesar di Asia Tenggara dengan potensi mencapai USD 340 miliar pada 2030, melampaui banyak negara di kawasan.
Rosan menjelaskan, Indonesia mendorong pembiayaan inovatif (blended finance) untuk menjembatani kebutuhan modal besar di sektor teknologi tinggi dengan agenda iklim dan pengembangan kapasitas lokal.
Berbagai lembaga internasional di sektor keuangan, termasuk Global Climate Fund dan investor global lainnya, melihat kombinasi pendanaan publik–swasta sebagai kunci percepatan infrastruktur digital yang scalable dan sustainable.
Dengan dukungan kebijakan yang adaptif, Indonesia memperkuat kapasitas lokal melalui reformasi perizinan dan insentif investasi digital, termasuk Online Single Submission (OSS) yang terintegrasi serta pemberian tax allowance dan tax holiday bagi sektor strategis teknologi dan inovasi.
Pendekatan ini dirancang untuk menciptakan kepastian proses dan waktu realisasi investasi di tengah dinamika global.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani di Indonesian Pavilion WEF 2026. Davos, Switzerland. 19 - 22 January 2026.