Pertamina: Impor Energi dari AS Masih Diperlukan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 21 Feb 2026, 10:15
thumbnail-author
Moh. Rizky
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Dirut Pertamina menyebut porsi LPG Impor dari AS bisa naik sampai 70 persen. Dirut Pertamina menyebut porsi LPG Impor dari AS bisa naik sampai 70 persen. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri memastikan impor energi dari Amerika Serikat (AS) masih diperlukan. Ini guna menutup kebutuhan energi nasional, di tengah produksi dalam negeri yang mengalami penurunan alami (natural decline).

“Skema impor ini adalah jembatan kita menuju kemandirian energi ... Untuk memenuhi gap saat ini, kita memang masih membutuhkan impor,” ujar Simon dalam konferensi pers virtual dari Washington DC, Jumat, 20 Februari 2026.

Ia menuturkan, Pertamina bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), SKK Migas, dan seluruh kontraktor kontrak kerja sama (K3S) terus berupaya meningkatkan produksi lifting migas.

Tapi, ia memastikan kondisi penurunan produksi alamiah membuat impor tetap menjadi opsi strategis.

Baca Juga: Bahlil Tegaskan Impor Energi AS Rp252 Triliun Bukan Tambahan, Hanya Alih Sumber

Simon menyebut, sejak Juli 2025, Pertamina telah menandatangani sejumlah nota kesepahaman (MoU) dengan calon mitra dari AS, antara lain ExxonMobil, Chevron, KDT Global Resources, dan Hartree.

“Kami juga masih membuka kepada calon-calon mitra dari Amerika Serikat,” ucap Simon.

Dia mengatakan, Pertamina baru-baru ini juga meneken MoU dengan Halliburton untuk kerja sama oil field recovery.

Menurut dia, kerja sama ini tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga mencakup transfer teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penerapan best global practices dalam industri migas.

Simon menjelaskan diversifikasi sumber energi menjadi kunci ketahanan energi nasional.

“Selain dari Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika, kita melihat peluang besar dari Amerika Serikat,” tuturnya.

Diketahui, pemerintah Indonesia dan AS pada resmi menandatangani poin-poin kesepakatan perjanjian tarif resiprokal, yang salah satunya memuat kepastian pembelian komoditas energi dari AS senilai total 15 miliar dolar AS atau sekitar Rp253,3 triliun, Kamis, 19 Februari 2026.

Nilai itu mencakup pembelian LPG sebesar 3,5 miliar dolar AS (Rp59,1 triliun), minyak mentah sebesar 4,5 miliar dolar AS (Rp76,0 triliun), serta bensin hasil kilang sebesar 7 miliar dolar AS (Rp118,2 triliun).

Dalam kesempatan yang sama, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa kesepakatan dagang senilai 15 miliar dolar AS dengan Amerika Serikat bukan berarti menambah volume impor energi Indonesia, melainkan melakukan realokasi kuota impor dari negara lain.

Dia mengatakan, bahwa langkah tersebut dilakukan dengan cara menggeser sebagian kuota impor yang sebelumnya berasal dari sejumlah negara lain, termasuk Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika.

x|close