Ntvnews.id, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka Ekspor Nonmigas Indonesia pada bulan Januari 2026 yang secara tahunan tumbuh sebesar 4,38 persen.
Kepala BPS RI Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan bahwa pada awal tahun 2026, ekspor industri pengolahan menunjukkan kinerja yang baik, ditengah menurunnya ekspor pertanian atau perkebunan dan ekspor pertambangan.
Kemudian industri pengolahan menjadi bantalan kinerja ekspor Januari 2026 yang tumbuh sebesar 8,19 persen.
"Produk industri yang tumbuhnya sangat tinggi antara lain adalah produk olahan minyak sawit, produk nikel, besi dan baja, semi konduktor, dan kendaraan bermotor. Sementara itu, produk olahan timah mampu tumbuh 191 persen karena larangan ekspor bijih timah yang berdampak terhadap tumbuhnya ekspor produk olahan timah," ucap Amalia dalam keterangan tertulisnya, Sabtu 7 Maret 2026.
Baca juga: BPS: Normalisasi Harga Listrik dan Inflasi Emas penyebab Utama Inflasi Februari 2026
Ia melanjutkan bahwa nilai ekspor industri pengolahan pada Januari 2026 adalah USD18,51 miliar, mengalami kenaikan dari US$ 17,11 miliar pada Januari 2025.
BPS mencatat tujuan utama ekspor nonmigas terbesar Indonesia adalah: Tiongkok, Amerika Serikat, dan China dengan kontribusi ketiga negara ini mencapai 43,77 persen pada Januari 2026.
Tiongkok masih menjadi pasar utama dengan nilai mencapai US$5,27 miliar (24,80 persen), diikuti oleh Amerika Serikat sebesar US$2,51 miliar (11,82 persen) dan India sebesar USD1,52 miliar (7,15 persen).
Amalia menyampaikan bahwaTotal Ekspor nonmigas ke Amerika Serikat pada Januari 2026 adalah sebesar USD2,82 Miliar atau tumbuh 13,60 persen dibandingkan dengan Januari tahun sebelumnya (y-on-y)
Dari sisi impor, nilai impor Indonesia pada Januari 2026 tercatat USD21,20 miliar, atau naik 18,21 persen dari Januari 2025 (y-on-y).
Penyumbang utama masih berasal dari sektor nonmigas, dengan nilai impor sebesar USD18,04 miliar, naik 16,71 persen dibandingkan Januari 2025.
Impor sektor migas juga meningkat hingga 27,52 persen (y-on-y). Kondisi ini menjadikan nilai impor sektor migas pada Januari 2026 tercatat sebesar USD3,17 miliar.
Dilihat dari sisi penggunaan, peningkatan impor pada Januari 2026 terjadi baik pada bahan baku/penolong, barang modal, serta barang konsumsi.
Nilai impor bahan baku/penolong sebagai pendorong utama kenaikan impor pada Januari 2026 tercatat USD14,88 miliar, naik 14,67 persen dibandingkan Januari 2025.
Sementara impor barang modal tercatat sebesar USD4,49 miliar, atau naik 35,23 persen dibandingkan bulan yang sama tahun lalu.
Baca juga: BPS Paparkan Nilai Perdagangan RI dengan Negara di Jalur Selat Hormuz
Peningkatan impor bahan baku atau penolong dan barang modal tersebut mencerminkan meningkatnya aktivitas produksi domestik serta investasi pada sektor riil, karena kedua kelompok barang ini umumnya digunakan untuk mendukung proses produksi industri dan ekspansi usaha.
BPS turut melaporkan tiga negara utama asal impor nonmigas Indonesia pada Januari 2026 adalah Tiongkok, Australia, dan Jepang. Kontribusi ketiga negara tersebut mencapai 54,90 persen.
Tiongkok masih menjadi negara utama dengan nilai impor USD7,89 miliar (43,71 persen), diikuti oleh Australia sebesar USD1,07 miliar (5,93 persen) dan Jepang sebesar USD0,95 miliar (5,26 persen).
Impor dari Tiongkok utamanya berupa mesin atau perlengkapan elektrik dan bagiannya, mesin atau peralatan mekanis dan bagiannya, serta plastik dan barang dari plastik.
Ilustrasi petikemas