Riset: Masyarakat Makin Banyak Belanja, Uang Beredar di Lebaran 2026 Tembus Rp 1.370 Triliun

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 27 Mar 2026, 12:00
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arus balik Lebaran 2026 mulai padat, hampir 2 juta kendaraan tercatat kembali ke Jabotabek hingga puncaknya pada 24 Maret. Arus balik Lebaran 2026 mulai padat, hampir 2 juta kendaraan tercatat kembali ke Jabotabek hingga puncaknya pada 24 Maret. (Istimewa)

Ntvnews.id, Jakarta - Momentum Lebaran 2026 menjadi periode vital bagi ekonomi Indonesia yang ditandai dengan lonjakan tajam jumlah uang tunai yang beredar di masyarakat.

Laporan terbaru NEXT Indonesia Center menunjukkan, pertumbuhan likuiditas yang signifikan ini mencerminkan peningkatan daya beli dan kesiapan konsumsi rumah tangga nasional.

"Dari hasil riset yang kami lakukan berdasarkan data Bank Indonesia, jumlah uang kartal atau uang tunai dalam bentuk kertas maupun logam yang diedarkan untuk kebutuhan jelang Lebaran 2026 mencapai Rp 1.370 triliun. Angka tersebut lebih tinggi 10,4 persen atau naik Rp 130 triliun dibandingkan menjelang Lebaran 2025 yang hanya Rp 1.240 triliun," ujar Kepala Peneliti NEXT Indonesia Center, Ade Holis, dalam keterangan tertulis, Kamis 26 Maret 2026. 

Baca Juga: Bahlil Pastikan Pasokan Energi Aman Saat Arus Balik Lebaran 2026

Ade menambahkan, jumlah uang tunai yang beredar pada Lebaran tahun ini mencapai rekor tertinggi dalam enam tahun terakhir.

"Lebaran 2026 adalah momentum emas. Kita sedang menyaksikan mesin ekonomi domestik bekerja pada kapasitas optimal," ucapnya.

Kenaikan pertumbuhan uang kartal atau uang tunai jelang Lebaran mencerminkan resiliensi ekonomi nasional, sekaligus menjadi bukti nyata penguatan aktivitas ekonomi di tingkat akar rumput. 

Adapun aspek menarik lainnya terlihat pada jumlah uang yang berada langsung di kantong masyarakat (di luar kas perbankan).

Menjelang Lebaran 2026, dana siap belanja tercatat mencapai Rp 1.241 triliun, naik Rp 104 triliun dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1.137 triliun.

"Hal ini tentunya menjadi modalitas ekonomi daerah yang sangat kuat. Tambahan uang tunai sebesar Rp 104 triliun yang dipegang masyarakat merupakan likuiditas segar yang siap memutar roda ekonomi di berbagai daerah tujuan pemudik," Ade menerangkan.

Pertumbuhan likuiditas ini berjalan selaras dengan gairah mobilitas masyarakat yang terekam dalam data arus mudik.

Kementerian Perhubungan dalam portal strategi.kemenhub.go.id mencatat kenaikan volume penumpang yang impresif pada semua moda transportasi dalam periode delapan hari menjelang Lebaran (H-8) hingga Hari H Idul Fitri 2026 atau yang biasa sering disebut periode arus mudik. 

Sektor transportasi air melalui kapal (ASDP) menjadi lini dengan penambahan jumlah pemudik terbesar.

Jumlah penumpang yang diberangkatkan melalui moda ini naik dari 2,33 juta orang pada 2025 menjadi 2,69 juta orang pada 2026. Artinya, ada tambahan sekitar 360 ribu pemudik di jalur penyeberangan.

"Peningkatan penumpang di jalur laut ini sangat krusial karena mengindikasikan pemerataan sirkulasi ekonomi antar-pulau," ungkap Ade.

Sementara di jalur darat, angkutan umum seperti bus juga menunjukkan tren positif.

Terdapat tambahan 145 ribu pemudik yang diberangkatkan, yang mengerek total penumpang dari 1,44 juta orang pada 2025 menjadi 1,59 juta orang pada tahun 2026.

Jumlah pemudik yang diberangkatkan menggunakan kereta api juga mengalami kenaikan. Tercatat ada 1,83 juta penumpang pada 2026, atau naik 193 ribu penumpang dibandingkan tahun sebelumnya yang sebanyak 1,63 juta penumpang. 

Baca Juga: Toko Oleh-oleh Kebanjiran Cuan saat Libur Lebaran, Pengunjung Naik hingga Tiga Kali Lipat

Sektor penerbangan pun menyumbang kenaikan pemberangkatan dengan tambahan 72 ribu penumpang.

Secara total, sebanyak 2,4 juta orang memilih menggunakan pesawat terbang pada periode jelang Idul Fitri 2026, naik dari 2,32 juta orang pada tahun sebelumnya.

"Sinkronisasi antara likuiditas dan mobilitas ini adalah kunci pertumbuhan ekonomi nasional. Masyarakat memiliki daya beli dan mereka memiliki akses mobilitas untuk membelanjakannya di kampung halaman, yang secara otomatis menghidupkan ekosistem ekonomi lokal," kata Ade.

NEXT Indonesia Center memproyeksikan bahwa gabungan antara dana siap belanja sebesar Rp 1.241 triliun dan masifnya arus mudik ini akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada kuartal pertama.

x|close