Ntvnews.id , Jakarta -Jakarta – Sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) dinilai masih memegang peran penting sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi daerah, terutama melalui efek berganda (multiplier effect) yang luas.
“Industri hulu migas memiliki karakteristik modal padat yang mendorong kebutuhan tenaga kerja serta jasa penunjang. Dari sinilah muncul efek berganda yang memperkuat perekonomian lokal,” ujar pengamat ekonomi dari Universitas Pertamina, A Rinto Pudyantoro,
Menurut Rinto, kontribusi industri hulu migas tidak hanya terbatas pada penyediaan energi, tetapi juga berdampak signifikan terhadap aktivitas ekonomi di tingkat lokal.
Berdasarkan data SKK Migas, investasi sektor hulu migas mencapai sekitar 13,7 miliar dolar AS pada 2023 dan mampu menyerap ratusan ribu tenaga kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Rinto menjelaskan, efek berganda tersebut terlihat dari keterlibatan berbagai sektor pendukung seperti konstruksi, transportasi, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Baca Juga: Harga BBM Nonsubsidi Naik, Pertamina Masih Evaluasi Harga Pertamax dan Pertamax Green
Selain itu, nilai pengadaan barang dan jasa di sektor ini juga mencapai lebih dari 5 miliar dolar AS per tahun dengan partisipasi besar dari perusahaan nasional dan daerah.
Ia menambahkan, setiap investasi di sektor hulu migas berpotensi memberikan dampak ekonomi hingga dua sampai tiga kali lipat terhadap produk domestik bruto (PDB) regional, menunjukkan besarnya daya ungkit sektor ini terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Namun demikian, Rinto mengingatkan adanya risiko ketergantungan yang tinggi terhadap migas, terutama karena fluktuasi harga energi global dan dinamika produksi yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi daerah penghasil.
“Oleh karena itu, penting untuk memanfaatkan momentum sektor ini tidak hanya untuk pertumbuhan jangka pendek, tetapi juga sebagai landasan diversifikasi ekonomi daerah,” Rinto disampaikan dalam rangkaian kegiatan Media Convex IPA 2026.
Pertamina jamin stok dan distribusi solar aman kepada masyarakat. ANTARA/HO/IST. (Antara)
Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan bahwa penerimaan dari sektor ini mencapai sekitar Rp300 triliun dalam beberapa tahun terakhir, termasuk dana bagi hasil (DBH) untuk pembangunan daerah.
Selain itu, program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) di sektor migas turut berperan dalam pembangunan infrastruktur, pendidikan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat di wilayah operasi.
Rinto menegaskan bahwa optimalisasi sektor hulu migas perlu tetap selaras dengan prinsip pembangunan berkelanjutan, termasuk mendukung penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi inklusif, serta penguatan industri dan infrastruktur daerah.
Baca Juga: BRIN Kembangkan Xanthan Gum untuk Dorong Efisiensi Migas dan Kurangi Impor
“Selama dikelola secara optimal dan berkelanjutan, migas tidak hanya menjadi sumber energi nasional, tetapi juga instrumen penting untuk memperkuat kemandirian perekonomian daerah,” tutupnya.
Sejalan dengan itu, sektor hulu migas juga dinilai berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam aspek pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi serta pembangunan industri dan infrastruktur.
Upaya optimalisasi sektor ini diharapkan tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga mendukung diversifikasi ekonomi yang berkelanjutan.
(Sumber: Pertamina)
Dosen Universitas Pertamina Ingatkan Peran Krusial Migas bagi Perekonomian Daerah. (Univ. Pertamina)