A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Invalid argument supplied for foreach()

Filename: libraries/General.php

Line Number: 87

Backtrace:

File: /www/ntvweb/application/libraries/General.php
Line: 87
Function: _error_handler

File: /www/ntvweb/application/controllers/Read.php
Line: 64
Function: popular

File: /www/ntvweb/index.php
Line: 326
Function: require_once

Airlangga: Ekonomi Indonesia Harus Tumbuh 6,7 Persen untuk Jadi Negara Maju 2045 - Ntvnews.id

Airlangga: Ekonomi Indonesia Harus Tumbuh 6,7 Persen untuk Jadi Negara Maju 2045

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 21 Apr 2026, 22:41
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan sambutan dalam seminar nasional terkait aksesi Indonesia ke Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) di Jakarta, Selasa (21/4/2026). (ANTARA/Aria Ananda) Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan sambutan dalam seminar nasional terkait aksesi Indonesia ke Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) di Jakarta, Selasa (21/4/2026). (ANTARA/Aria Ananda) (Antara)

Ntvnews.id

, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa Indonesia perlu mendorong pertumbuhan ekonomi hingga sekitar 6,7 persen guna mencapai target sebagai negara maju pada tahun 2045.

Ia menilai capaian tersebut penting agar Indonesia mampu keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap) sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi nasional.

“Saya kira, dengan aspirasi Indonesia untuk menjadi negara berpendapatan tinggi (negara maju) pada 2045, Indonesia perlu tumbuh melampaui 5 persen. Artinya, Indonesia perlu mencapai pertumbuhan (ekonomi) setidaknya 6,7 persen. Karena itu, Presiden sangat mendorong kita, meskipun menghadapi situasi global yang penuh tantangan,” ujar Airlangga dalam seminar nasional di Jakarta, Selasa, 21 April 2026.

Menurutnya, kondisi global saat ini masih dipenuhi ketidakpastian yang berdampak pada berbagai sektor strategis, seperti energi, pangan, hingga rantai pasok.

Sebagai respons, pemerintah terus memperkuat ketahanan ekonomi nasional melalui berbagai kebijakan strategis, termasuk di sektor energi dan pangan.

Baca Juga: TNI AL Andalkan Drone dan KSOT untuk Efisiensi BBM, Siapkan B50 bagi Kapal Perang

Airlangga menambahkan bahwa stabilitas ekonomi nasional tetap dijaga dengan mengandalkan kekuatan domestik, khususnya konsumsi dalam negeri sebagai penopang utama.

“Kita perlu menjaga kepercayaan konsumen karena konsumsi domestik menjadi penopang utama perekonomian,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa konsumsi domestik berkontribusi sekitar 54 persen terhadap permintaan ekonomi nasional, sehingga perlu dijaga melalui kebijakan yang adaptif dan responsif.

Selain itu, pemerintah juga terus mendorong diversifikasi energi guna mengurangi ketergantungan terhadap impor serta menjaga stabilitas pasokan energi nasional.

“Pemerintah terus mendorong peningkatan pencampuran biodiesel hingga B50 untuk mengurangi ketergantungan impor energi,” ujarnya.

Di sektor pangan, pemerintah berupaya menjaga stabilitas pasokan dengan mengendalikan biaya produksi, termasuk harga gas sebagai bahan baku pupuk.

Airlangga menyebut Indonesia memiliki kelebihan produksi pupuk urea dan mampu mengekspor sekitar 1,5 juta ton setiap tahunnya.

“Untuk pupuk urea, kita memiliki kelebihan dan bahkan mengekspor sekitar 1,5 juta ton setiap tahun,” ungkapnya.

Baca Juga: Menpora Ajak Pemuda Indonesia Jadi Solusi Lepas dari Middle Income Trap

Ia juga mengungkapkan bahwa sejumlah negara seperti India, Australia, dan Filipina telah meminta dukungan pasokan pupuk dari Indonesia di tengah dinamika rantai pasok global.

Menurutnya, hal ini menunjukkan posisi Indonesia yang semakin strategis dalam mendukung ketahanan pangan, baik di tingkat domestik maupun global.

Airlangga menegaskan bahwa berbagai langkah tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga pertumbuhan ekonomi tetap stabil di tengah tekanan global.

Ia juga memastikan pemerintah akan terus mendorong kebijakan yang fleksibel dan responsif agar target pertumbuhan ekonomi dapat tercapai.

(Sumber: Antara)

x|close