Ntvnews.id
Berdasarkan laporan itu, sejumlah infrastruktur strategis di Iran, seperti jaringan energi dan jalur transportasi utama, dinilai berpotensi menjadi target apabila terjadi peningkatan eskalasi konflik. Di saat bersamaan, militer Israel juga memperkuat kesiapan pertahanan serta meningkatkan kewaspadaan untuk menghadapi kemungkinan konflik lanjutan.
Selain itu, disebutkan bahwa Amerika Serikat tengah mengkaji opsi serangan terbatas ke Iran guna mendorong tercapainya kesepakatan terkait program nuklir. Namun demikian, hingga kini belum ada keputusan final mengenai waktu maupun bentuk operasi yang akan dilakukan.
Koordinasi antara kedua negara juga meliputi pemantauan terhadap upaya Iran dalam memulihkan fasilitas pentingnya. Jika serangan terjadi, target yang diperkirakan meliputi instalasi energi, pabrik baja, serta cadangan minyak dan gas.
Baca Juga: Bahlil Pastikan Pasokan Energi Nasional Aman di Tengah Geopolitik Global
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Israel diketahui melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari. Aksi tersebut memicu respons balasan dari Iran terhadap sekutu AS di kawasan Teluk, termasuk penutupan Selat Hormuz.
Ketegangan sempat mereda setelah kedua pihak menyepakati gencatan senjata selama dua pekan yang diumumkan pada 8 April melalui mediasi Pakistan. Pertemuan lanjutan di Islamabad pada 11–12 April pun digelar, namun belum menghasilkan kesepakatan.
Baca Juga: Iran Tetapkan Tenggat 1 Bulan ke AS untuk Kesepakatan Selat Hormuz dan Akhiri Konflik
Selanjutnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan untuk memperpanjang gencatan senjata secara sepihak tanpa menetapkan batas waktu baru, sebagaimana diusulkan oleh Pakistan.
(Sumber: Antara)
Foto ini yang dikeluarkan Angkatan Pertahanan Israel (IDF) pada 13 Juni 2025 ini menunjukkan kepala staf angkatan bersenjata Israel Eyal Zamir (tengah) mengawasi serangan IDF ke Iran di ruang situasi Angkatan Udara Israel. ANTAR/Xinhua/HO-IDF/aa. (Antara)