Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, secara resmi mengumumkan berakhirnya Operasi Epic Fury, yakni serangan gabungan yang dilakukan Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran. Ia menegaskan bahwa tujuan utama operasi tersebut telah tercapai dan tidak ada rencana untuk melanjutkan konflik maupun meningkatkan eskalasi.
Dalam konferensi pers di Gedung Putih pada Selasa (5/5/2026), Rubio menyampaikan bahwa fase militer dari operasi tersebut telah selesai sepenuhnya.
"Operasi telah berakhir. Epic Fury, Presiden (Trump) telah memberi tahu Kongres. Kita telah selesai dengan tahap itu," kata Rubio.
Menurutnya, selama operasi berlangsung, AS berhasil melumpuhkan berbagai kemampuan strategis Iran, termasuk rudal balistik jarak pendek, peluncur, fasilitas produksi, hingga kekuatan angkatan laut. Ia menyebut keberhasilan ini menghilangkan kemampuan Teheran untuk membangun perlindungan bagi program nuklirnya.
"(Ini-red) pencapaian yang sangat substansial dan itulah tujuan operasi ini sejak hari pertama," katanya.
Rubio juga menegaskan bahwa Washington tidak berniat memperpanjang konflik. Fokus kebijakan kini bergeser ke langkah pengamanan kawasan, khususnya melalui inisiatif baru bernama “Proyek Kebebasan” yang bertujuan menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz dengan pengawalan defensif terhadap kapal-kapal.
Baca Juga: Tawuran Remaja di Klender Berujung Maut, Warga Tewas Tertabrak KRL Saat Melerai
Hingga saat ini, pemerintah Iran belum memberikan tanggapan langsung atas pernyataan tersebut.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat tajam sejak 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Situasi ini memicu serangan balasan dari Teheran yang menargetkan pasukan AS, Israel, serta sekutu Amerika di kawasan Teluk, sekaligus mengganggu jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
Upaya meredakan konflik sempat dilakukan melalui gencatan senjata yang dimediasi Pakistan pada 8 April. Namun, perundingan lanjutan di Islamabad tidak menghasilkan kesepakatan permanen. Gencatan senjata kemudian diperpanjang tanpa batas waktu oleh Presiden AS, Donald Trump.
Sejak 13 April, AS juga memberlakukan blokade angkatan laut terhadap lalu lintas maritim Iran di kawasan tersebut. Rubio menyebut langkah ini berdampak besar terhadap ekonomi Iran, dengan kerugian diperkirakan mencapai USD430 juta per hari.
Baca Juga: MUI Kecam Dugaan Kekerasan Seksual di Lingkungan Pondok Pesantren Pati
Rubio menjelaskan bahwa “Proyek Kebebasan” berbeda dari Operasi Epic Fury karena bersifat defensif.
"Ini bukan operasi ofensif, ini adalah operasi defensif," kata Rubio.
"Dan artinya sangat sederhana, tidak ada penembakan kecuali kita ditembak terlebih dahulu. Kita hanya akan merespons jika diserang terlebih dahulu."
Pernyataan tersebut muncul di tengah insiden baku tembak terbaru antara AS dan Iran di Selat Hormuz. Meski demikian, Rubio menegaskan bahwa gencatan senjata tetap berlaku dan operasi militer utama telah berakhir.
Ia juga memperingatkan Iran terkait aktivitasnya di jalur pelayaran tersebut.
"Selat Hormuz bukan milik Iran. Mereka tidak berhak menutupnya dan meledakkan kapal serta memasang ranjau. Dan itulah yang telah mereka lakukan."
Ia menambahkan bahwa situasi tersebut tidak dapat dibiarkan.
"Itu tidak bisa dinormalisasi," katanya.
Presiden AS Donald Trump berbicara sementara Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memperhatikan selama konferensi pers setelah serangan AS di Venezuela, tempat Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap, dari klub Mar-a-Lago milik Tr (CNA)