Ntvnews.id, Jakarta - Kementerian Agama (Kemenag) terus memperkuat program Pesantren Ramah Anak dengan menyiapkan fasilitator guna menciptakan lingkungan pendidikan Islam yang aman, nyaman, dan inklusif bagi para santri.
Upaya tersebut dinilai tidak hanya berkaitan dengan penyediaan fasilitas fisik, tetapi juga pembentukan budaya pengasuhan yang penuh keteladanan.
“Pesantren yang ramah anak lahir dari lingkungan yang aman, hangat, dan penuh keteladanan. Sebagai fasilitator, kita harus memiliki kapabilitas yang baik untuk menjadi teladan bagi tenaga kependidikan di lingkungan pesantren,” ujar Sekretaris Jenderal Kemenag Kamaruddin Amin di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026.
Sebagai bagian dari langkah tersebut, Kementerian Agama menggelar kegiatan peningkatan kapasitas fasilitator pesantren ramah anak bagi pesantren di Jakarta.
Baca Juga: Kemenag Dorong Pesantren dengan 1.000 Santri Bangun Dapur MBG Mandiri
Kamaruddin menjelaskan, kegiatan serupa akan terus dilaksanakan secara berkala guna memastikan pesantren berkembang menjadi ekosistem pendidikan yang tidak hanya menitikberatkan pada kecerdasan intelektual, tetapi juga menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan perlindungan terhadap anak.
Melalui program tersebut, Kemenag ingin memastikan seluruh santri memperoleh perlindungan secara penuh selama menjalani proses pendidikan di pesantren.
“Semoga ikhtiar ini memperkuat komitmen bersama dalam menghadirkan ruang pendidikan yang melindungi, mendidik, dan menumbuhkan generasi dengan baik,” ujarnya.
Kementerian Agama juga terus memperluas penerapan praktik baik pesantren ramah anak melalui penguatan regulasi, peningkatan kapasitas para pengasuh pesantren, hingga penyusunan panduan nasional terkait pesantren ramah anak.
Dengan berbagai langkah tersebut, pesantren diharapkan dapat menjadi ruang tumbuh yang aman, sehat, dan bermartabat bagi seluruh santri di Indonesia.
Baca Juga: DPR Mau Santri Tak Rendah Diri Karena Sekolah di Pesantren
Kamaruddin berharap penguatan kapasitas fasilitator dan tenaga kependidikan mampu menjadikan pesantren sebagai “rumah kedua” bagi para santri, tempat di mana kasih sayang menjadi dasar utama dalam proses pendidikan.
“Pesantren harus menjadi 'rumah kedua' yang penuh kasih sayang, tempat tumbuhnya generasi yang cerdas secara spiritual, intelektual, dan emosional,” kata dia.
Melalui Program Pesantren Ramah Anak, Kementerian Agama menegaskan bahwa nilai-nilai kemanusiaan dan keadaban harus berjalan beriringan dengan penguasaan kitab kuning serta ilmu pengetahuan demi membentuk masa depan santri yang sehat, aman, dan bermartabat.
(Sumber: Antara)
Arsip - Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam Roadshow Lokakarya Borobudur sambut Waisak di Jakarta, Rabu (6/5/2026). (ANTARA/HO-Kemenag) (Antara)