Teheran Ancam Pengayaan Uranium 90 Persen Jika AS dan Israel Kembali Menyerang

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 12 Mei 2026, 17:42
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (Canva)

Ntvnews.id, Jakarta - Iran kembali melontarkan ancaman terkait program nuklirnya setelah muncul kabar bahwa Amerika Serikat (AS) mempertimbangkan melanjutkan serangan terhadap negara tersebut. Teheran menyatakan dapat memperkaya uranium hingga 90 persen atau mencapai tingkat yang dapat digunakan untuk membuat senjata nuklir jika kembali diserang oleh AS maupun Israel.

Pernyataan itu disampaikan Juru Bicara Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran, Ebrahim Rezaei. Menurutnya, langkah tersebut menjadi salah satu opsi yang dapat diambil Teheran apabila tekanan militer terhadap Iran kembali meningkat.

"Salah satu opsi Iran jika terjadi serangan lainnya adalah pengayaan (uranium) hingga 90 persen," ucap Rezaei dalam pernyataan terbaru via media sosial X.

"Kami akan meninjaunya di parlemen," tegasnya.

Baca Juga: Indonesia Kirim 780 Prajurit TNI ke UNIFIL Lebanon, Tegaskan Komitmen Perdamaian Dunia

Ancaman Iran tersebut muncul setelah laporan media AS menyebut Presiden AS Donald Trump tengah mempertimbangkan kembali opsi militer terhadap Teheran. Pertimbangan itu muncul usai Trump menolak proposal terbaru Iran yang diajukan untuk mengakhiri perang.

Sejumlah pejabat AS yang identitasnya dirahasiakan mengungkapkan bahwa Trump menggelar rapat tingkat tinggi bersama tim keamanan nasionalnya pada Senin (11/5) sore waktu setempat. Pertemuan itu membahas kemungkinan serangan lanjutan terhadap Iran setelah gencatan senjata berlangsung selama beberapa pekan terakhir.

Media AS, Axios, yang mengutip sejumlah pejabat Negeri Paman Sam, melaporkan bahwa Trump sedang mempertimbangkan aksi militer baru terhadap Iran untuk meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Teheran dan memaksa konsesi terkait program nuklirnya.

Salah satu pejabat AS yang dikutip Axios menyebut Trump kemungkinan akan meningkatkan tekanan militer terhadap Iran.

Baca Juga: Bahlil Laporkan Ketahanan Energi dan Evaluasi Izin Tambang ke Prabowo di Istana

Trump akan "sedikit meningkatkan intensitasnya".

Di tengah situasi tersebut, Iran sebelumnya telah mengirimkan respons terhadap proposal perdamaian yang diusulkan AS melalui mediator Pakistan pada Minggu (10/5). Respons itu kemudian diteruskan kepada Washington.

Namun, Trump langsung menolak proposal tersebut dan menyebutnya tidak dapat diterima. Saat berbicara kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih pada Senin (11/5), Trump bahkan kembali melontarkan kritik keras terhadap respons yang dikirim Teheran.

"Saya akan menyebutnya sebagai yang terlemah saat ini, setelah membaca sampah itu," ucap Presiden AS itu, mengomentari respons yang diserahkan Teheran melalui Pakistan.

Trump juga menilai kondisi gencatan senjata yang berlaku sejak awal April kini berada dalam situasi yang sangat rapuh.

"Saya akan mengatakan bahwa gencatan senjata berada dalam kondisi kritis, di mana dokter masuk dan berkata, 'Pak, orang yang Anda cintai memiliki peluang hidup sekitar 1 persen'. Itu proposal yang bodoh, dan tidak ada yang akan menerimanya," ujar Trump.

Perkembangan terbaru ini terjadi hanya beberapa hari setelah Trump sebelumnya sempat menyatakan optimisme bahwa kesepakatan dengan Iran masih mungkin tercapai.

x|close