Ntvnews.id, Jakarta - Pertemuan bilateral antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping tidak hanya menyita perhatian karena isu geopolitik yang dibahas. Di luar agenda resmi kenegaraan, publik dunia maya justru ramai memperdebatkan detail visual yang muncul selama pertemuan kedua pemimpin tersebut di Beijing.
Sorotan terbesar datang dari sebuah rekaman video yang viral di berbagai platform media sosial. Dalam tayangan itu, warganet menyoroti posisi duduk Trump dan Xi Jinping yang dianggap tidak seimbang karena perbedaan tinggi sofa yang digunakan keduanya saat berbincang.
Xi Jinping terlihat duduk di sofa yang tampak sedikit lebih tinggi dibanding sofa yang ditempati Trump. Detail kecil itu langsung memicu gelombang spekulasi di media sosial, terutama di platform X. Banyak pengguna internet menilai perbedaan tersebut bukan sekadar kebetulan, melainkan bagian dari permainan simbolik dalam diplomasi tingkat tinggi.
Perdebatan pun berkembang menjadi perang narasi antarkelompok warganet. Sebagian menuding Beijing sengaja mengatur posisi furnitur untuk menciptakan kesan visual bahwa Trump tampak lebih pendek dari Xi Jinping.
"Sofa itu pasti dibuat khusus. Sofa yang diduduki Xi Jinping jelas lebih tinggi dari sofa Trump, padahal tinggi badan Trump 10 sentimeter lebih tinggi daripada Xi Jinping. PKC (Partai Komunis China) tidak pernah berhenti bersiasat bahkan untuk detail sekecil ini," tulis salah satu pengguna X yang membagikan video tersebut.
Baca Juga: WNI Asal Sumsel Disekap dan Dianiaya di Malaysia oleh Penyelundup Timah Ilegal
Namun tudingan itu segera dibalas oleh narasi lain yang justru menyebut situasi tersebut terjadi akibat keputusan Trump sendiri. Dalam versi yang beredar luas, pihak tuan rumah disebut telah menyiapkan penyesuaian khusus agar tinggi duduk kedua pemimpin terlihat setara.
"Presiden China sebenarnya sudah mengukur secara presisi hingga hitungan sentimeter dengan menaruh bantal kecil di kursi Trump agar tinggi duduk mereka setara. Namun, Trump memerintahkan agar bantal itu disingkirkan... yang akhirnya membuat dia justru terlihat lebih pendek dari Presiden China saat duduk," bantah unggahan viral lainnya.
Kegaduhan mengenai “sofa Trump” itu kemudian menjadi salah satu topik paling ramai dibahas sepanjang kunjungan tersebut. Detail visual yang sebenarnya sederhana berubah menjadi bahan analisis politik, meme, hingga parodi yang menyebar cepat di media sosial global.
Perhatian publik terhadap gerak-gerik kedua pemimpin juga tidak berhenti di ruang pertemuan. Video lain yang ikut viral memperlihatkan momen ketika Trump dan Xi Jinping berjalan menaiki tangga di area Great Hall of the People.
Dalam rekaman tersebut, Xi Jinping terlihat sempat menghentikan langkah ketika berjalan berdampingan dengan Trump. Gestur itu kemudian memunculkan interpretasi baru di kalangan warganet yang mengaitkannya dengan kondisi fisik Presiden AS tersebut.
"Saat berjalan menaiki tangga menuju Great Hall of the People, Xi Jinping menyadari bahwa Trump tampak kelelahan di tangga. Karena itu, ia sengaja berhenti sejenak dan memberikan penjelasan singkat mengenai alun-alun di depan mereka, memberikan waktu bagi Trump untuk mengatur napas," klaim sebuah narasi yang menyertai video tersebut.
Baca Juga: Wagub Sumbar Vasco Ruseimy Alami Kecelakaan Saat Perjalanan Dinas
Meski dunia maya dipenuhi berbagai spekulasi, candaan, dan interpretasi visual mengenai interaksi Trump dan Xi Jinping, suasana pembicaraan resmi kedua negara tetap berlangsung dalam tensi serius. Lawatan Trump ke China yang berakhir pada Jumat waktu setempat tetap dibayangi sejumlah isu sensitif yang menyangkut hubungan Washington dan Beijing.
Sebelum meninggalkan China menggunakan pesawat kepresidenan Air Force One, Trump menyampaikan klaim optimistis mengenai hasil kunjungannya. Ia menyebut pembicaraan dengan China menghasilkan sejumlah kesepakatan penting yang menurutnya tidak mudah dicapai pihak lain.
"Kami telah menyelesaikan banyak masalah berbeda yang orang lain tidak akan mampu menyelesaikannya," ujar Trump optimis di hadapan wartawan pada hari kedua pertemuan.
Di sisi lain, Beijing tetap menunjukkan sikap tegas terhadap Amerika Serikat. Pemerintah China mengingatkan Washington agar berhati-hati dalam menangani isu Taiwan yang selama ini menjadi titik sensitif hubungan kedua negara.
Selain itu, China juga melontarkan kritik terhadap keterlibatan militer AS dalam konflik Iran yang sebelumnya sempat mengguncang stabilitas global. Dengan demikian, di balik viralnya perdebatan mengenai sofa hingga bahasa tubuh kedua pemimpin, hubungan AS dan China tetap berada dalam dinamika diplomatik yang penuh tekanan.
Arsip - Presiden China Xi Jinping (kanan) bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Busan, Korea Selatan 30 Oktober 2025.(ANTARA/HO-Xinhua/Huang Jingwen) (Antara)