Trump Yakin Kesepakatan AS–Iran Segera Tercapai, Selat Hormuz Akan Dibuka Tanpa Tarif

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 25 Mei 2026, 06:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Ilustrasi bendera AS dan Iran. (ANTARA/Anadolu Agency/pri) Ilustrasi bendera AS dan Iran. (ANTARA/Anadolu Agency/pri) (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keyakinannya bahwa kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran akan segera terwujud. Salah satu poin utama dalam rancangan perjanjian tersebut adalah pembukaan Selat Hormuz tanpa pungutan biaya dari Iran.

Dilansir dari Axios, Senin, 25 Mei 2026, Trump mengatakan bahwa sebagian besar isi kesepakatan telah dirundingkan dan kini hanya menunggu tahap finalisasi dari Amerika Serikat, Iran, serta sejumlah negara terkait.

"Sebuah kesepakatan sebagian besar telah dinegosiasikan, dan masih menunggu finalisasi antara Amerika Serikat, Republik Islam Iran, dan berbagai negara lain," tulis Trump di Truth Social.

Ia juga mengungkapkan telah melakukan komunikasi dengan sejumlah pemimpin, termasuk Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman serta Raja Yordania Abdullah II terkait perkembangan perjanjian tersebut, yang menurutnya akan segera diumumkan.

"Selain banyak elemen lain dari Perjanjian tersebut, Selat Hormuz akan dibuka," tulis Trump.

Baca Juga: Trump Sebut Minyak Venezuela Tutupi Biaya Perang AS dengan Iran

Sementara itu, Axios melaporkan sejumlah poin dalam draf kesepakatan yang disusun. Sumber pejabat Amerika Serikat menyebut rancangan yang hampir disepakati itu mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari, pembukaan kembali Selat Hormuz, izin bagi Iran untuk menjual minyak secara bebas, serta dimulainya negosiasi pembatasan program nuklir Iran.

Kesepakatan tersebut disebut bertujuan mencegah eskalasi perang yang lebih luas sekaligus meredakan tekanan terhadap pasokan minyak global. Namun, belum ada kepastian apakah perjanjian itu akan menjadi kesepakatan damai jangka panjang.

Trump dan para mediator disebut membuka kemungkinan pengumuman kesepakatan dilakukan dalam waktu dekat, meski dokumen tersebut belum final dan masih berpotensi gagal. Pejabat AS mengklaim draf tersebut telah diverifikasi oleh beberapa sumber yang dekat dengan proses negosiasi.

Hingga kini, pihak Iran belum mengonfirmasi rincian tersebut, meskipun Teheran juga menyatakan bahwa kesepakatan telah berada di tahap akhir. Kedua pihak disebut akan menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang berlaku selama 60 hari dan dapat diperpanjang jika disepakati bersama.

Selama masa 60 hari tersebut, Selat Hormuz akan dibuka tanpa biaya, sementara Iran juga disebut akan membersihkan ranjau laut di kawasan itu agar jalur pelayaran kembali aman.

Ilustrasi - Sebuah kapal menunggu untuk melewati Selat Hormuz. ANTARA/Shady Alassar - Anadolu Agency/pri. <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Sebuah kapal menunggu untuk melewati Selat Hormuz. ANTARA/Shady Alassar - Anadolu Agency/pri. (Antara)

Sebagai imbalannya, Amerika Serikat akan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran dan memberikan sejumlah keringanan sanksi agar Teheran dapat kembali menjual minyak secara bebas. Pejabat AS mengakui kebijakan ini akan menguntungkan ekonomi Iran, tetapi juga dianggap membantu stabilitas pasar minyak dunia.

Pejabat AS menegaskan bahwa semakin cepat Iran memenuhi komitmen seperti pembersihan ranjau dan pemulihan jalur pelayaran, semakin cepat pula blokade akan dicabut. Prinsip utama Trump dalam kesepakatan ini disebut sebagai “bantuan untuk kinerja”.

Iran sendiri dilaporkan menginginkan pencairan dana yang dibekukan serta pencabutan sanksi permanen, namun pihak AS menegaskan hal tersebut baru akan diberikan setelah adanya konsesi nyata dari Teheran. Isu program nuklir akan dibahas lebih lanjut dalam negosiasi lanjutan.

Menurut dua sumber yang mengetahui proses tersebut, Iran telah memberikan komitmen lisan melalui mediator terkait ruang konsesi dalam penangguhan pengayaan uranium dan penyerahan material nuklir. Amerika Serikat akan tetap membuka pembahasan pencabutan sanksi selama periode 60 hari, tetapi implementasinya hanya akan dilakukan dalam kesepakatan akhir.

Baca Juga: Rupiah Tersungkur ke Rp17.677 Dibayangi Konflik Iran-AS

Selama periode itu, pasukan Amerika Serikat yang telah dimobilisasi di kawasan tetap akan bertahan dan hanya akan ditarik jika kesepakatan final tercapai. Draf juga menyebutkan bahwa konflik antara Israel dan Hizbullah di Lebanon akan dihentikan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan menyampaikan kekhawatiran atas perkembangan tersebut dalam percakapan telepon dengan Trump. Namun pejabat AS menegaskan bahwa kesepakatan itu bukan “gencatan senjata sepihak”, dan Israel tetap dapat mengambil tindakan jika Hizbullah melakukan serangan atau persenjataan ulang.

Perang yang melibatkan Iran disebut dimulai oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026. Hingga 20 Mei, data Al Jazeera mencatat ribuan korban jiwa dan puluhan ribu korban luka di Iran akibat konflik tersebut.

Iran juga telah melancarkan serangan balasan ke Israel serta fasilitas Amerika Serikat di kawasan Teluk. Konflik ini turut memicu penutupan Selat Hormuz yang berdampak pada kenaikan tajam harga minyak dunia.

TERKINI

Load More
x|close