Israel Klaim Kuasai Kastil Beaufort di Lebanon Selatan, Bendera Dikibarkan di Benteng Bersejarah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 1 Jun 2026, 08:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Asap mengepul setelah serangan Israel terhadap Kota Yahmar al-Shakif dan Arnun di Provinsi Nabatieh, Lebanon selatan pada 11 Mei 2026. ANTARA/Anadolu/Ramiz Dallah/pri. Ilustrasi - Asap mengepul setelah serangan Israel terhadap Kota Yahmar al-Shakif dan Arnun di Provinsi Nabatieh, Lebanon selatan pada 11 Mei 2026. ANTARA/Anadolu/Ramiz Dallah/pri. (Antara)

Ntvnews.id, Beirut - Israel mengklaim berhasil menguasai Kastil Beaufort (Qalaat al-Shaqif), sebuah benteng bersejarah yang terletak di dekat Kota Nabatieh, Lebanon Selatan. Klaim tersebut muncul setelah bendera Israel terlihat berkibar di atas kastil yang selama ini dikenal sebagai salah satu lokasi strategis di kawasan tersebut.

Menurut laporan sejumlah media internasional, termasuk AFP, Al Jazeera, Reuters, dan AP, pasukan Israel telah mengambil alih kastil yang berada di punggung bukit sekitar 15 kilometer dari perbatasan Lebanon-Israel.

Seorang koresponden AFP melaporkan terdengarnya suara tembakan artileri dan kepulan asap di sekitar lokasi ketika bendera Israel tampak berkibar di atas benteng peninggalan abad pertengahan itu. Kastil Beaufort juga dikenal pernah digunakan sebagai pangkalan militer Israel selama masa pendudukan di Lebanon Selatan yang berlangsung selama dua dekade.

Kabar tersebut semakin menguat setelah stasiun televisi Israel, Kan, menayangkan gambar yang menunjukkan bendera Israel terpasang di atas bangunan bersejarah yang berasal dari era Perang Salib tersebut.

Hingga kini, pemerintah Lebanon belum memberikan pernyataan resmi terkait klaim Israel tersebut. Namun, apabila penguasaan kastil itu terkonfirmasi, langkah tersebut dinilai menjadi keuntungan strategis bagi militer Israel yang sejak 2 Maret terlibat pertempuran dengan kelompok Hizbullah.

Kastil Beaufort merupakan situs warisan budaya yang berada dalam perlindungan UNESCO. Sebelumnya, benteng itu pernah dikuasai Israel selama 18 tahun sebelum pasukan negara tersebut menarik diri dari Lebanon pada tahun 2000.

Baca Juga: Korban Tewas Serangan Israel di Lebanon Bertambah Jadi 3.269 Orang

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, turut menyatakan bahwa pasukannya telah berhasil merebut benteng bersejarah tersebut. Pernyataan itu disampaikan bersamaan dengan perluasan operasi darat Israel di wilayah Lebanon, yang mendapat kritik dari Perdana Menteri Lebanon dan disebut sebagai kebijakan "bumi hangus".

"Empat puluh empat tahun setelah Pertempuran Beaufort yang heroik, dan pada hari ini memperingati para prajurit yang gugur dalam Perang Lebanon Pertama, pasukan kita telah kembali ke puncak Beaufort dan sekali lagi mengibarkan bendera Israel di sana," kata Katz dalam sebuah unggahan di media sosial.

"Di bawah arahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan saya, IDF memperluas operasi di Lebanon, menyeberangi Sungai Litani, dan merebut Punggungan Beaufort-salah satu titik strategis terpenting untuk mempertahankan komunitas Galilea dan menjaga keamanan pasukan kita," tambahnya.

Operasi militer di kawasan tersebut berlangsung bersamaan dengan dikeluarkannya perintah evakuasi oleh militer Israel untuk sejumlah wilayah di selatan Sungai Zahrani dan utara Sungai Litani, sekitar 40 kilometer dari perbatasan kedua negara.

NNA melaporkan terjadinya  <b>(Antara)</b> NNA melaporkan terjadinya (Antara)

Israel menyatakan bahwa operasi tersebut ditujukan terhadap posisi dan infrastruktur milik Hizbullah yang didukung Iran. Militer Israel juga memperingatkan warga agar menjauhi lokasi yang diduga digunakan kelompok tersebut untuk aktivitas militer.

"Siapa pun yang berada di dekat elemen, fasilitas, atau sarana tempur Hizbullah membahayakan nyawa mereka. Setiap bangunan yang digunakan oleh Hizbullah untuk tujuan militer dapat menjadi sasaran!" Juru bicara militer Israel, Avichay Adraee, mengatakan hal itu dalam sebuah unggahan di media sosial.

Perkembangan terbaru ini menandai meningkatnya eskalasi konflik di Lebanon Selatan, sekaligus memperbesar kekhawatiran akan meluasnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.

x|close