Media Malaysia Soroti Rupiah Melemah dan Turis Singapura yang Ramai ke Jakarta

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 3 Jun 2026, 06:40
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Foto: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/kye) Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Foto: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/kye)

Ntvnews.id, Jakarta - Media Malaysia menaruh perhatian pada pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan sejumlah mata uang asing lainnya yang terus berlanjut dalam beberapa waktu terakhir.

Sorotan tersebut muncul dalam laporan media daring Malaysia, The Star, yang terbit pada Senin dengan judul "Jakarta crime fears rise, but rupiah slide keeps Singaporeans coming for shopping and food."

Dalam laporannya, media itu menyoroti meningkatnya kekhawatiran terhadap kriminalitas di Jakarta, namun di saat yang sama mencatat bahwa nilai tukar rupiah yang melemah justru membuat warga Singapura semakin tertarik berkunjung ke Indonesia untuk berbelanja dan menikmati wisata kuliner.

Pada perdagangan terbaru, rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar AS. Nilainya tercatat mendekati level Rp18.000 per dolar AS atau tepatnya berada di kisaran Rp17.879 per dolar AS.

Di kawasan Asia, pergerakan mata uang terhadap dolar AS terlihat beragam. Yuan China menguat 0,02 persen, sedangkan ringgit Malaysia bergerak relatif stabil. Sementara itu, peso Filipina melemah 0,03 persen, dolar Singapura turun 0,01 persen, yen Jepang terkoreksi 0,03 persen, won Korea Selatan terdepresiasi 0,16 persen, dan dolar Hong Kong melemah 0,01 persen.

The Star juga menyinggung sejumlah pemberitaan mengenai meningkatnya kasus kriminalitas di Jakarta, termasuk aksi perampokan dan penjambretan yang menimpa wisatawan asing. Situasi tersebut bahkan memunculkan julukan "Gotham City" bagi Jakarta, merujuk pada kota fiksi yang identik dengan tingkat kejahatan tinggi dalam kisah Batman.

Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp17.814 per Dolar AS Terdorong Gencatan Senjata AS-Iran

Meski demikian, media tersebut menilai meningkatnya angka kriminalitas belum berdampak signifikan terhadap minat wisatawan Singapura untuk datang ke Indonesia, khususnya ke Jakarta.

"Meskipun gubernur kota (Jakarta) menyebut ini sebagai insiden terisolasi dan, pada 9 Mei, mengutip survei yang menempatkan Jakarta sebagai kota teraman kedua di ASEAN setelah Singapura, pihak berwenang Indonesia sedang meningkatkan keamanan di ibu kota," tulis the Star.

"Namun, wisatawan Singapura tampaknya sebagian besar tidak terpengaruh oleh reputasi Jakarta yang penuh kejahatan, karena mereka memiliki target pencurian lain."

Pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Bank Syariah Indonesia, Tangerang Selatan, Banten. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj. <b>(Antara)</b> Pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Bank Syariah Indonesia, Tangerang Selatan, Banten. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj. (Antara)

Menurut laporan tersebut, pelemahan rupiah justru meningkatkan daya tarik Jakarta sebagai destinasi wisata belanja dan kuliner. The Star kemudian mengutip pengalaman seorang wisatawan asal Singapura yang datang bersama dua saudara perempuannya untuk berbelanja selama beberapa hari di Jakarta.

"Tidak ada waktu untuk takut - terlalu banyak belanjaan yang harus dilakukan," ujar perempuan 52 tahun itu bersama dua saudara perempuannya untuk melakukan kesenangan yang ia sebut sebagai "maraton belanja besar-besaran" dari 22 hingga 25 Mei, dikutip dari The Star.

Laporan itu juga mengulas sejumlah video viral yang memperlihatkan wisatawan asing asal Polandia dan Italia menjadi korban penjambretan di kawasan Kebon Sirih dan Menteng pada pertengahan Mei lalu.

Meski mengetahui informasi tersebut, wisatawan bernama Noraini mengaku tidak merasa khawatir, meskipun dirinya menginap di kawasan sekitar Menteng.

"Tentu saja, ketika video seperti itu menjadi viral, orang-orang akan membicarakannya. Tapi jujur saja, kami hanya berusaha berhati-hati seperti yang kami lakukan di Singapura atau kota besar lainnya," kata Noraini, yang bekerja di industri medis.

"Jangan berdiri terlalu dekat dengan jalan dengan ponsel Anda terbuka, jangan biarkan tas Anda terbuka. Anda tahu, hal-hal mendasar seperti itu," tambahnya.

Wisatawan Singapura lainnya, Marcus Tan, juga mengungkapkan bahwa nilai tukar yang menguntungkan membuatnya semakin antusias berbelanja di Jakarta setelah sebelumnya berwisata ke Nusa Tenggara Timur.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.800, Purbaya: Saya Stres!

"Seratus dolar Singapura benar-benar cukup untuk banyak hal di sini. Saya bisa membeli lebih banyak, makan lebih banyak, dan tetap merasa seperti menghabiskan uang lebih sedikit daripada di negara asal saya," kata Tan kepada the Star.

Ia juga mengaku senang karena dapat membeli berbagai produk bermerek yang sama dengan yang dijual di Singapura, tetapi dengan harga yang lebih terjangkau di Jakarta.

Selain The Star, media Singapura, The Straits Times, turut menyoroti pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Dalam laporannya, media tersebut mengutip pandangan Kepala Riset Asia Australia & New Zealand Banking Group, Khoon Goh, mengenai kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia.

"Para investor prihatin terhadap posisi fiskal Indonesia karena tingginya tagihan subsidi energi. Tekanan pada rupiah karena imbal hasil domestik perlu dinaikkan agar cukup menarik bagi arus masuk asing untuk dipertahankan," kata Goh kepada the Straits Times.

Pelemahan rupiah yang terus berlangsung kini menjadi perhatian media regional, tidak hanya karena dampaknya terhadap perekonomian dan investasi, tetapi juga karena pengaruhnya terhadap sektor pariwisata dan daya tarik Indonesia bagi wisatawan mancanegara.

x|close