Ntvnews.id, Jakarta - BPBD Kabupaten Sleman memasang kamera CCTV di rumah milik warga Margomulyo, Kapanewon Seyegan, yang diketahui berulang kali mengalami kebakaran secara misterius. Pemasangan ini dilakukan di tengah upaya berbagai pihak menelusuri penyebab munculnya api yang hingga kini belum terungkap secara pasti.
Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, menjelaskan bahwa pemasangan CCTV bertujuan untuk merekam langsung proses munculnya api di lokasi kejadian.
"Sebetulnya penjelasannya adalah kita pengin melihat seperti apa asal muasal munculnya api itu," kata Kepala Pelaksana BPBD Sleman Bambang Kuntoro mengungkap alasan pemasangan CCTV tersebut, Selasa (9/6).
Menurut Bambang, rekaman kamera diharapkan dapat menangkap secara detail pola kemunculan api yang terjadi di beberapa titik rumah.
"Kemunculan api di beberapa spot itu. Sehingga bisa mendapatkan bagaimana prosesnya," tambahnya.
Baca Juga: Tangis Nanik Usai Dilantik Jadi Kepala BGN oleh Prabowo di Istana Negara
Selain untuk kepentingan pengamatan ilmiah, CCTV tersebut juga difungsikan sebagai alat pemantau aktivitas di dalam dan sekitar rumah. Hal ini menyusul kondisi rumah yang kerap didatangi banyak orang selama proses investigasi berlangsung.
"Yang kedua, ketika rumah Bu Mutvia yang terdampak ini sering dimasuki orang, kalau ada apa-apa yang hilang atau ada sesuatu yang tidak pas, siapa saja yang masuk bisa termonitor. Termasuk tamu-tamunya siapa saja," katanya.
Pemasangan perangkat pengawas tersebut dilakukan di dua titik utama, yakni ruang tengah dan ruang depan rumah, guna memastikan seluruh area penting dapat terekam dengan baik.
Hingga Senin (8/6), rumah tersebut tercatat telah mengalami kebakaran berulang hingga ratusan kali.
"Sudah 113 kali," kata pemilik rumah, Mutviana, Senin (8/6).
Baca Juga: Menteri LH: Lebih dari 3.000 Perusahaan dan 447 Pemda Disanksi karena Pelanggaran Lingkungan
Mutviana menyebut, frekuensi kejadian kebakaran belakangan ini mulai berkurang seiring meningkatnya jumlah orang yang datang ke lokasi untuk melakukan pemantauan dan penelitian.
"Seperti yang sudah dikatakan bahwa gas oksigen itu rebutan dengan manusia. Kalau manusianya banyak yang datang, berarti intensitasnya turun. Nah, itu kayake (kayaknya) masuk gitu," katanya.
Sejumlah peneliti masih terus melakukan kajian di lokasi kejadian untuk mencari titik terang penyebab kebakaran. Tim dari Universitas Gadjah Mada (UGM) bahkan telah mengoperasikan perangkat georadar dalam proses investigasi.
"Kalau alat kan belum tahu ya hasilnya seperti apa. Kita tunggu dulu hasilnya seperti apa. Tapi kalau hasilnya kan masih tetap harus menunggu, apalagi BRIN juga sudah datang. Mereka menunggu alat yang datang dari Jakarta, masih menunggu beberapa hari lagi," katanya.
Di tengah proses penelitian yang masih berlangsung dan melibatkan berbagai pihak, harapan tetap diarahkan agar sumber masalah segera ditemukan sehingga kejadian serupa dapat dihentikan.
"Semoga segera selesai, segera bertemu titik masalahnya seperti apa," katanya.
Ilustrasi kebakaran. (Ist/Net) (A) (Antara)