Iran Tutup Total Selat Hormuz, Semua Kapal Diancam Jadi Target Militer

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 11 Jun 2026, 09:47
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Kapal patroli milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) di Selat Hormuz. /ANTARA/Xinhua/aa. Kapal patroli milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) di Selat Hormuz. /ANTARA/Xinhua/aa. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Iran mengumumkan penutupan total Selat Hormuz untuk seluruh aktivitas pelayaran di tengah memanasnya konflik dengan Amerika Serikat (AS). Langkah tersebut menandai eskalasi terbaru dalam ketegangan kedua negara yang kembali terlibat aksi saling serang setelah gencatan senjata rapuh yang berlaku sejak April lalu.

Melalui siaran televisi nasional pada Kamis (11/6/2026), Markas Besar Khatam Al-Anbiya menyatakan bahwa jalur perairan strategis tersebut ditutup bagi seluruh kapal, termasuk kapal tanker minyak dan kapal dagang.

Militer Iran menyebut keputusan itu diambil karena kondisi keamanan di kawasan yang dinilai tidak lagi kondusif menyusul apa yang mereka sebut sebagai agresi Amerika Serikat dan serangan terbaru Washington terhadap Provinsi Hormozgan di selatan Iran.

Dalam pernyataannya, Iran menegaskan bahwa seluruh pergerakan kapal di Selat Hormuz akan dianggap sebagai target.

Baca Juga: Inggris Pecundangi Kosta Rika Skor 3-0

Pihak militer juga membantah klaim Amerika Serikat yang menyebut jalur pelayaran tersebut masih dapat dilintasi secara normal.

Pengumuman penutupan Selat Hormuz muncul setelah sejumlah wilayah di selatan Iran dilaporkan menjadi sasaran serangan udara. Media Iran melaporkan adanya ledakan, aktivasi sistem pertahanan udara, serta serangan di beberapa lokasi, termasuk Bandar Abbas, Minab, Jask, Qeshm, dan Sirik.

Situasi di kawasan semakin memanas setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan peluncuran serangan tambahan terhadap sejumlah target di Iran.

Militer AS menyatakan operasi tersebut merupakan serangan defensif sebagai respons atas apa yang mereka sebut sebagai agresi berkelanjutan dari Iran. Menurut CENTCOM, serangan dimulai pada pukul 17.15 EDT atau sekitar pukul 00.45 waktu Teheran pada Kamis dini hari.

Serangan terbaru itu dilakukan hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump kembali mengancam akan melanjutkan operasi militer apabila tidak tercapai kesepakatan damai.

"Kami menghantam mereka dengan keras kemarin. Kami akan menghantam mereka lagi dengan keras hari ini," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih pada Rabu.

Pernyataan senada disampaikan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth saat berkunjung ke Markas Komando Pusat di Florida.

Menurut Hegseth, serangan tersebut akan memperkuat kepentingan militer sekaligus meningkatkan posisi diplomatik Amerika Serikat.

"Kami akan menghantam mereka dengan keras malam ini, dan mudah-mudahan Iran membuat keputusan yang baik," ujarnya.

"Jika kami perlu bernegosiasi dengan bom, kami akan bernegosiasi dengan bom."

Baca Juga: Ayah Perkosa Putri Tiri, Modus Kasih Kwetiau Campur Obat Penenang

Gelombang serangan terbaru ini menjadi perkembangan terkini dalam konflik yang mengancam kembali pecah menjadi perang terbuka. Sebelumnya, pertempuran sempat mereda setelah kedua pihak menyepakati gencatan senjata pada 8 April, meski pelanggaran dan baku tembak sporadis terus terjadi.

Di tengah meningkatnya konflik, ledakan dilaporkan terdengar di kota pelabuhan Sirik, sementara sistem pertahanan udara Iran di wilayah barat Teheran juga diaktifkan.

Ketegangan semakin meningkat setelah militer AS pada Selasa menyerang sejumlah lokasi radar dan pertahanan udara di sekitar Selat Hormuz. Serangan itu dilakukan sehari setelah sebuah helikopter serang Amerika ditembak jatuh di dekat jalur perairan strategis tersebut.

Iran kemudian merespons dengan meluncurkan serangan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain. Seorang pejabat AS menyatakan tidak ada kerusakan signifikan akibat serangan tersebut.

Di sisi lain, Iran menuduh Amerika Serikat melanggar hukum internasional setelah menyerang sebuah bendungan yang menjadi sumber pasokan air bagi 10 desa.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut fasilitas tersebut menyediakan air minum bagi lebih dari 20.000 penduduk.

"Fasilitas ini memasok air minum kepada lebih dari 20.000 penduduk di sepuluh desa. Ini adalah kejahatan perang yang disengaja dan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional," kata Baghaei.

Penutupan total Selat Hormuz kini menjadi salah satu perkembangan paling signifikan dalam konflik Iran-AS, mengingat jalur tersebut merupakan salah satu rute pelayaran dan distribusi energi paling penting di dunia. Keputusan Teheran itu juga berpotensi memperbesar risiko eskalasi militer di kawasan Teluk serta mengganggu lalu lintas perdagangan internasional yang bergantung pada jalur tersebut.

x|close